Iran Serang Drone Militer AS, Harga Minyak Melejit 5 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 21/06/2019 07:46 WIB
Iran Serang Drone Militer AS, Harga Minyak Melejit 5 Persen Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia melejit lebih dari 5 persen pada perdagangan Kamis (20/6), waktu Amerika Serikat (AS). Aksi Iran menembak drone militer AS mengerek kekhawatiran terjadinya konfrontasi militer antar kedua negara.

Dilansir dari Reuters, Jumat (21/6), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$2,63 atau 4,63 persen menjadi US$64,45 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$2,89 atau 5,4 persen menjadi US$56,65 per barel.

Ekspektasi The Fed dapat memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan berikutnya, stimulus pertumbuhan di negara konsumen minyak terbesar di dunia, serta turunnya persediaan minyak AS juga turut menopang harga minyak.


"Ini merupakan pertemuan dari beberapa kejadian. Ada siklus pelonggaran yang akan menghantam dolar AS dan mendongkrak harga komoditas, serta ada juga tensi dengan Iran," ujar Partner Again Capital John Kilduff di New York.


Menurut Kilduff, premi pengaman harga minyak dapat meningkat lebih jauh seiring memanasnya tensi antara Washington dan Teheran.

Premi atau selisih harga Brent terhadap WTI menyempit ke level terendahnya sejak April. Menurut Direktur Berjangka Mizuho Bob Yawger, pergerakan ini terjadi akibat harga WTI naik lebih cepat dibandingkan Brent karena dorongan dari potensi kebijakan Bank Sentral AS Federal Reserves (The Fed).

Presiden AS Donald Trump meremehkan serangan Iran ke drone militer AS dengan menduga serangan tersebut merupakan kesalahan. Selain itu, baginya, akan terjadi perbedaan yang besar jika ada pesawat yang dikontrol oleh remote itu dikendalikan oleh pilot.

Komentar Trump tersebut mengindikasikan Trump tidak ingin terburu-buru mengeskalasi kejadian terakhir dengan Iran itu. Ia juga memperingatkan bahwa AS tidak akan diam saja.

Iran menyatakan drone pengawas tanpa senjata Global Hawk itu tengah menjalankan misi mata-mata di wilayahnya. Namun, AS membantahnya dengan menyatakan drone ditembak di wilayah udara internasional.


Tensi memang kian memanas di Timur Tengah, lokasi di mana 20 persen pasokan minyak dunia berasal. Meningkatkan tensi terjadi setelah terjadi ledakan dua kapal tanker di dekat Selat Hormuz yang merupakan jalur pengapalan utama. AS menuding Iran sebagai biang keladi, namun Iran telah membantah keterlibatannya.

Sementara itu, kekhawtiran terkait perlambatan ekonomi global dan sengketa dagang AS-China telah menekan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir. Padahal, pada April 2019 lalu, Brent sempat menyentuh level US$75 per barel.

Analis Petromatrix Olivier Jakob menilai , jika tidak ada eskalasi tensi AS-Iran, prospek turunnya suku bunga AS akan memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap pasar minyak.

"The Fed dan pemangkasan suku bunga merupakan sesuatu yang akan memberikan dorongan substansial (pada minyak)," ujar Jakob.

Selanjutnya, sumber Reuters dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan organisasi kartel itu akan menjaga produksi minyak Juli sesuai target meski kebijakan pemangkasan produksi global akan berakhir Juni ini. Hal itu menjadi sinyal eksportir dari Negara Teluk enggan untuk mengerek pasokannya.


OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, diperkirakan bakal memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph). Koalisi yang dikenal dengan sebutan OPEC+ itu setuju untuk menggelar pertemuan pada 1-2 Juli 2019 di Wina, Austria, untuk memutuskan nasib kebijakan pemangkasan produksi tersebut. (sfr/lav)