Awali Pekan, Harga Minyak AS Menguat Tipis

CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 08:13 WIB
Awali Pekan, Harga Minyak AS Menguat Tipis Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan Senin (24/6), waktu setempat, dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan pecahnya konflik antara AS dan Iran mulai mereda. Di saat yang sama, kekhawatiran terhadap penurunan permintaan minyak mentah kembali muncul.

Dilansir dari Reuters, Selasa (25/6), harga minyak mentah AS berjangka West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,47 atau 0,8 persen menjadi US$57,9 per barel.

Sementara, harga minyak mentah berjangka Brent turun tipis US$0,34 atau 0,5 persen menjadi US$64,86 per barel.


Pekan lalu, harga Brent menguat 5 persen dan harga WTI melesat 10 persen setelah Iran menembak drone milik US di kawasan Teluk. Penembakan tersebut menambah tensi akibat serangan pada kapal tanker di kawasan tersebut pada Mei dan Juni. AS telah menuding Iran sebagai biang keladi serangan terhadap kapal tanker tapi Iran telah membantah keterlibatannya.


Pada Senin (24/6), Presiden AS Donald Trump mengenakan sanksi baru kepada Iran. Pada Jumat (21/6) sebelumnya, Trump telah membatalkan serangan balasan ke Iran pada detik-detik terakhir yang membatasi kenaikan harga minyak.

"Saya rasa sebagian premi risiko kembali terbangun karena tensi antara AS dan Iran sedikit mereda," ujar Partner Again Capital Management John Kilduff di New York.

Selain itu, Kilduff juga menilai kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian dan permintaan kembali mengemuka di pasar.

Harapan mulai memudar terhadap progres pembicaraan perdagangan antara AS-China pada pertemuan G20 pekan ini saat Trump dan Presiden China Xi Jinping akan bertemu.


"Kami tidak berekspektasi akan tercapai kesepakatan apapun selama pertemuan Trump dan Xi di G20 Summit pada akhir pekan ini," ujar Commerzbank dalam catatannya.

Lemahnya data manufaktur yang dirilis Bank Sentral AS The Federal Reserve pada Senin (24/6) kemarin juga menambah kekhawatiran akan merosotnya permintaan terhadap minyak mentah.

Sementara itu, para analis memperkirakan pasokan masih akan relatif ketat seiring kemungkinan perpanjangan kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia. Keputusan perpanjangan kebijakan tersebut akan diambil dalam pertemuan yang akan digelar pada 1-2 Juli di Wina, Austria.

Sinyal perpanjangan disampaikan oleh Menteri Energi Rusia Alexander Novak pada Senin (21/6) kemarian. Novak menyatakan kerja sama internasional terkait produksi minyak mentah telah membantu menstabilisasi pasar minyak karenanya menjadi sangat penting. Selain itu, Novak juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap permintaan.

[Gambas:Video CNN] (sfr/agi)