IMF 'Wanti-wanti' Ekonomi AS Berisiko dalam Jangka Menengah

CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 14:21 WIB
IMF 'Wanti-wanti' Ekonomi AS Berisiko dalam Jangka Menengah Ilustrasi logo International Monetary Fund (IMF). (REUTERS/Yuri Gripas).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dewan Eksekutif Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperingatkan ada peningkatan risiko jangka menengah terhadap ekonomi Amerika Serikat (AS).

Hal itu dipicu kondisi pasar keuangan yang berpotensi mengalami 'pembalikan tiba-tiba'. Selain itu, sengketa perdagangan antara AS dan China yang semakin mendalam juga menjadi risiko material terhadap ekonomi Negeri Paman Sam.

"Sistem keuangan tampak sehat, tetapi kerentanan pada pendanaan korporasi dan dalam sistem nonbank meningkat oleh standar-standar historis," kata Dewan Eksekutif IMF dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Antaranews, Selasa (25/6).


Dewan eksekutif mencatat bahwa rasio utang publik terhadap produk domestik bruto )(PDB AS berada di jalur yang tidak berkelanjutan dan diperkirakan akan terus meningkat selama jangka menengah, karena pengeluaran meningkat.


Adapun, konsultasi tersebut berfokus pada kebijakan yang diperlukan untuk mengatasi risiko ekonomi AS, menjaga stabilitas keuangan, mendukung standar hidup masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah, serta membangun kembali ruang fiskal.

PDB riil AS diperkirakan tumbuh 2,6 persen secara tahunan pada 2019, sebelum turun moderat menjadi 1,9 persen pada 2020.

"Kewaspadaan yang berkelanjutan, kebijakan ekonomi makro yang hati-hati, dan reformasi di sisi pasokan akan sangat penting untuk mengamankan pertumbuhan yang kuat, seimbang, dan inklusif, menghasilkan dampak positif ke seluruh dunia," kata dewan eksekutif IMF.

Meskipun hasil ekonomi makro positif, dewan eksekutif mengatakan manfaat dari ekspansi selama satu dekade ini belum dibagikan seluas mungkin. IMF mendesak pemerintah AS untuk mengatasi ketimpangan pendapatan yang terus melebar.


Dewan eksekutif IMF mendorong AS untuk bekerja secara konstruktif dan kooperatif dengan mitra dagangnya demi mengatasi distorsi dalam sistem perdagangan. Selain itu, pemerintah AS juga diminta menyelesaikan ketegangan perdagangan dengan cara yang meningkatkan sistem perdagangan internasional berbasis aturan yang lebih terbuka, stabil, dan transparan.

Terkait kebijakan moneter, dewan eksekutif menyambut jeda bank sentral AS Federal Reserve dalam menyesuaikan suku bunga. Lembaga juga setuju bahwa kenaikan suku bunga federal fund harus ditunda sampai ada tanda-tanda yang lebih jelas terkait upah atau inflasi harga.

Sebelumnya, The Fed menahan level suku bunga tetap di kisaran 2,25 persen hingga 2,5 persen. Hal itu seiring meningkatnya ketidakpastian tentang prospek ekonomi AS dan membuka pintu untuk menurunkan suku bunga pada waktu mendatang.

[Gambas:Video CNN] (Antara/lav)