Aktivitas Pabrik China Lesu Akibat Perang Dagang dengan AS

CNN Indonesia | Minggu, 30/06/2019 16:28 WIB
Aktivitas Pabrik China Lesu Akibat Perang Dagang dengan AS Ilustrasi. (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aktivitas pabrik di China dikabarkan menyusut berdasarkan sebuah survei yang dilansir Reuters. Hasil survei itu menyoroti perlunya lebih banyak stimulus ekonomi guna menangkal dampak dari perang dagang.

Meski data ekspor dan keuntungan industri sedikit lebih baik, meningkatnya tarif dagang yang dilakukan AS memicu kekhawatiran terhambatnya pertumbuhan ekonomi di China dan risiko resesi global.

Menurut data Indeks Manajer Pembelian (PMI) soal pertumbuhan output pabrik China, sub-indeks turun menjadi 51,3 dari 51,7 pada bulan Mei lalu. Indeks penurunan total pesanan meningkat menjadi 49,6 dari 49,8.



Akibat melemahnya aktivitas pabrik, para eksportir China mengatakan impor juga memburuk.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mengadakan pertemuan bilateral saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 berlangsung di Osaka, Jepang untuk membahas lebih lanjut terkait perang dagang.

Namun, salah satu media pemerintah China mengatakan bahwa Amerika-China kemungkinan akan menghadapi jalan panjang sebelum kedua negara tersebut mencapai kesepakatan.


Sebelumnya, Trump telah menerapkan tarif dagang sebesar US$250 miliar terhadap barang-barang dari China dan mengancam untuk memperpanjang tarif itu sebesar US$300 miliar yang secara efektif akan mencakup semua ekspor China ke AS.

Sementara itu menurut data dari survei bisnis resmi China menunjukkan aktivitas di sektor jasa masih tetap kuat di bulan Juni meskipun ada tekanan yang meningkat akibat perang dagang AS-China. Data menunjukkan angka 54,2 dibanding bulan Mei yakni 54,3.

China sendiri memang mengandalkan sektor jasa untuk mengatasi kelonggaran tarif dagang yang tinggi untuk mengalihkan perekonomian negara dari ketergantungan pada industri berat dan ekspor manufaktur.
[Gambas:Video CNN] (din/agi)