Ditinggalkan 'Shopaholic', Kini Mal Cuma Tempat Kongko

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Kamis, 18/07/2019 12:00 WIB
Ditinggalkan 'Shopaholic', Kini Mal Cuma Tempat Kongko Ilustrasi pusat perbelanjaan. (CNN Indonesia/Ulfa Arieza).
Jakarta, CNN Indonesia -- Petugas keamanan berseragam hitam tampak sigap menyambut setiap pengunjung yang datang di Poins Square Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Namun, sapaan itu kemudian berganti dengan muka muram pedagang di area pusat perbelanjaan.

Beberapa pedagang duduk termenung sembari menghadap layar telepon genggam. Beberapa lainnya berusaha menawarkan barang dagangan kepada pengunjung yang melintas, meski tak jarang diabaikan pengunjung.

Begitu pula yang dilakukan Uji (35), perempuan yang telah berjualan di Poins Square selama tujuh tahun. Ia memulai pekerjaannya dengan berjualan DVD selama lima tahun, kemudian beralih menjajakan kerudung dalam dua tahun terakhir. Tujuh tahun berdagang di Poins Square membuatnya paham betul perkembangan kondisi pusat perbelanjaan yang beroperasi sejak 2005 itu.


Ia bercerita pengunjung di tempatnya berkurang sejak pembangunan stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) yang berjarak hanya 200 meter dari Poins Square. Meskipun, transportasi massa itu kini sudah beroperasi, jumlah pengunjung pertokoan tetap tak bertambah signifikan.

Dulu, ia mengaku bisa mengantongi omzet sebesar Rp1 juta saban hari. Kini, omzetnya otomatis berkurang seiring penurunan jumlah pengunjung.


"Sekarang tidak tentu, jarang sampai Rp1 juta paling Rp500 ribu. Kadang pengunjung ramai tapi lewat saja," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Kondisi pedagang lainpun tak jauh berbeda dengan Uji. Hanya tampak satu atau dua pembeli di setiap gerai. Lainnya, sepi tanpa pembeli.

Beberapa gerai bahkan sengaja dibiarkan tanpa penjagaan, seolah sang pemilik yakin tidak ada pembeli berkunjung. Keramaian pengunjung hanya tampak di pusat makanan (food court) yang terletak di lantai Upper Ground (UG). Secara umum, kondisinya jauh dari hingar bingar pusat perbelanjaan.

Ketika bergeser ke pusat perbelanjaan sejenis di kawasan strategis, ITC Kuningan, cerita pedagangnya pun tak jauh berbeda. Secara umum, ITC Kuningan yang berada di Jalan Satrio itu tampak lebih ramai pengunjung, meski tak sesak oleh antrean.

Yanti (22) seorang pedagang pakaian di ITC Kuningan menuturkan minat beli pengunjung berkurang drastis sejak tahun lalu. Mayoritas dari mereka hanya membeli barang kebutuhan atau sekadar cuci mata.


Imbasnya, omzet dagangannya merosot hingga 75 persen dari rata-rata Rp80 juta per bulan menjadi Rp20 juta per bulan. Ia sendiri kebingungan ketika ditanya penyebabnya.

"Ramadan dua tahun lalu omzet kami per hari bisa mencapai Rp7 juta-Rp8 juta, Ramadan kemarin paling maksimal Rp3 juta," ujar pedagang yang sudah membuka toko selama empat tahun itu.

Senada, Refi (29) juga mengaku kehilangan omzet dagangan secara drastis. Dari semula Rp100 juta per bulan, kini bisa menjadi hanya Rp80 juta per bulan. Ia mengaku pernah menjajal berjualan via daring (online). Namun, tak bertahan lama lantaran menurut dia penjualan online dianggap lebih rumit.

"Kami sekarang mengandalkan langganan dari daerah, mereka datang sekali kalau cocok langsung kami kirim rutin setiap bulan," paparnya.

Lain cerita, ketika berkunjung ke pusat perbelanjaan segmen menengah atas yang bersifat penyewaan gerai (lease mall). Hingar bingar pusat perbelanjaan lebih terasa, baik dari sisi keramaian pengunjung maupun gerai. Beberapa lease mall juga mengadakan acara untuk menarik pengunjung, mulai dari hiburan keluarga, pertunjukan mini, hingga diskon.


Gandaria City misalnya, masih ramai dikunjungi pembeli. Salah seorang penjaga gerai, Irma (21) menuturkan pengunjung Gandaria City tak banyak berubah. Namun, tidak semua gerai ramai dikunjungi pembeli, cuma gerai-gerai tertentu saja seperti produk fesyen, kosmetik, makanan, dan minuman.

"Jumlah pengunjung tergantung event juga. Kalau ada event biasanya makin ramai," katanya.

Pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat, Grand Indonesia juga ramai dikunjungi pembeli. Salah satu penjaga gerai, Sari (22) mengatakan pengunjung Grand Indonesia tidak berubah. Tak jauh berbeda dengan Gandaria City, pengunjung memadati gerai-gerai tertentu utamanya yang menjual produk fesyen, kosmetik, dan foodcourt.

"(Pengunjung) normal-normal saja, masih ramai. Terutama week end (akhir pekan)," ujarnya.

Peralihan Minat Konsumen di Tengah Arus Zaman(CNN Indonesia/Ulfa Arieza).

Pergeseran Preferensi Konsumen

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan menilai fungsi pusat perbelanjaan telah bergeser, yakni tak hanya sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli. Lebih dari itu, konsumen menjadikan pusat perbelanjaan sebagai destinasi untuk mencari pengalaman (experience) yang menyenangkan.

Oleh sebab itu, ia bilang pengelola pusat perbelanjaan harus pandai dalam membaca preferensi masyarakat. Fenomena itu tercermin dari kebiasaan baru masyarakat yang mengabadikan momennya ketika berkunjung di pusat perbelanjaan.

"Kalau konsumen datang harus ada pengalaman yang menyenangkan. Kalau dia datang ke mall isinya hanya toko tidak ada apa-apanya, tidak ada yang instagramable orang sudah mulai malas," ujarnya.

Fenomena pusat perbelanjaan sepi pengunjung, lanjutnya, tidak lepas dari fakta tersebut. Ia menilai sejumlah pengelola pusat perbelanjaan terlambat untuk menyesuaikan keinginan pasar dan enggan berinovasi. Padahal itu bisa dilakukan dengan menggandeng suatu komunitas dalam penyelenggaraan event, gelaran diskon, mini konser, merenovasi design untuk menarik pengunjung.


Ia bilang pusat perbelanjaan juga dituntut menggunakan ritel omni-channel atau memberikan pelanggan kesempatan untuk berinteraksi dengan penjual melalui lebih dari satu saluran, misalnya toko fisik, e-commerce, mobile commerce (m-commerce), social commerce, dan lainnya.

"Biasanya mall yang turun tidak mengerti yang seperti itu (inovasi). Tidak cukup orang datang lalu dia senang, tetapi harus inovasi terus," katanya.

Ia menilai daya beli dan kemunculan e-commerce bukan menjadi pemicu menurunnya kunjungan ke pusat perbelanjaan. Di sisi lain, dia juga menganggap kontribusi e-commerce di Indonesia masih tipis, lantaran konsumen cenderung pilah-pilih dalam membeli barang dari e-commerce.

"(Pembelian) online ada tapi hanya barang-barang yang sudah yakin betul jika barangnya sama," tuturnya.

Ia lebih setuju dengan anggapan bahwa memang terjadi perubahan gaya hidup masyarakat. Konsumen, lanjutnya, saat ini sangat selektif dalam mengalokasikan uang, termasuk dalam belanja. Mereka hanya membeli produk yang betul-betul menjadi kebutuhan. Selain itu, mereka cenderung mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sifatnya kesenangan seperti berjalan-jalan, makanan dan minuman yang instagramable, dan sebagainya.


"Dengan adanya handphone itu yang membuat semuanya berubah. Ketika makan harus bergaya, ke restoran harus yang interiornya bagus. Fenomena itu bukan hanya di kalangan milenial, ibu-ibu juga begitu," katanya.

Tantangan lain, datang dari karakteristik pusat belanja. Untuk diketahui, ada dua jenis pusat perbelanjaan, yaitu strata title dan lease mall. Strata title adalah pusat perbelanjaan yang gerainya dimiliki secara pribadi, contohnya ITC Kuningan dan Poins Square. Sedangkan lease mall adalah pusat perbelanjaan yang hanya menyewakan gerai, contohnya Grand Indonesia dan Gandaria City.

Ia bilang lease mall lebih mudah dalam berinovasi karena setiap gerai harus menaati aturan dari pihak pengelola. Selain itu, lease mall lebih sering mengadakan gelara diskon dan event lain guna menarik pengunjung. Sebaliknya, strata title lebih terbatas dalam inovasi karena semua penghuni kios adalah pemilik sehingga memiliki kebijakan masing-masing.

"Mengumpulkan orangnya susah, karena semua pemilik. Hanya beberapa ITC yang berhasil melakukan inovasi dan ramai," katanya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan rata-rata pedagang pada strata title mendaur ulang bisnis mereka dengan menambah saluran penjualan online untuk mengkompensasi penurunan jumlah pengunjung. Tak heran, jika beberapa e-commerce mendatangkan barangnya dari ITC.

[Gambas:Video CNN]

"Mereka mendaur ulang sehingga tidak hanya berjualan di toko, tapi mereka juga memasarkan produknya di online," tuturnya.

Senada dengan Stefanus ia menampik jika terjadi penurunan daya beli masyarakat. Pasalnya, tingkat inflasi masih terkontrol sesuai dengan target pemerintah, yakni 3,28 persen pada Juni 2019 secara tahunan.

Selain itu, survei Bank Indonesia (BI) juga melansir Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2019 berada di level optimis, yakni sebesar 126,4. Meskipun lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 128,2 namun Roy menilai level itu masih menunjukkan optimisme konsumsi masyarakat.

"Kalau di atas 100 itu berarti masih optimis dan konsumen masih percaya dengan produk-produk lokal di Indonesia," tuturnya.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan jumlah pengunjung pusat perbelanjaan tumbuh sebesar rata-rata 5 persen - 7 persen pada kuartal II 2019 untuk pusat perbelanjaan kelas premium dan sebesar 7 persen-8 persen untuk kelas menengah ke atas. Pertumbuhan kelas premium lebih lambat lantaran pengunjung yang datang hanya terbatas.


Rinciannya, pengunjung pusat perbelanjaan kelas premium sebanyak 30 ribu orang di hari kerja dan 40 ribu orang pada akhir pekan. Sedangkan pengunjung pusat perbelanjaan kelas menengah ke atas sebanyak 65 ribu orang di hari kerja dan 100 ribu orang pada akhir pekan.

"Untuk rata-rata seluruh pusat perbelanjaan sebanyak 35 ribu orang pada hari kerja dan 85 ribu orang pada akhir pekan," tuturnya.

Namun, tingkat pertumbuhan pengunjung lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 10 persen. Ia menduga perlambatan pertumbuhan pengunjung lantaran telah menemukan alternatif tempat berkumpul baru di luar pusat perbelanjaan.

"Kondisi ekonomi juga belum sepenuhnya menggembirakan dan terjadi shifting (pergeseran) kepada leisure," katanya. (lav)