Banjir Pasokan, Okupansi Kantor di Pusat Bisnis Jakarta Lesu

CNN Indonesia | Rabu, 17/07/2019 19:02 WIB
Banjir Pasokan, Okupansi Kantor di Pusat Bisnis Jakarta Lesu Ilustrasi. (CNNIndonesia.com/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga konsultan properti, Jones Lang LaSalle (JLL) mengungkapkan tingkat keterisian (okupansi) perkantoran di kawasan pusat bisnis (Central Business Distric/CBD) Jakarta turun 2 persen dari 78 persen pada kuartal II 2018 menjadi 76 persen pada periode yang sama tahun ini. Total penyerapan ruang kantor mencapai 24.400 meter persegi.

Head of Research JLL James Taylor mengatakan turunnya tingkat okupansi disebabkan bertambahnya pasokan (supply) unit kantor. JLL mencatat tambahan 23.500 meter persegi perkantoran sepanjang kuartal II 2019.

Sementara sejak awal tahun, angkanya mencapai 272 ribu meter persegi. Jumlah ini diprediksi terus bertambah hingga akhir tahun sehingga mencapai 565 ribu meter persegi.


"Okupansi turun karena banyak pasokan baru," katanya, Rabu (17/7).


Ia bilang tren pertumbuhan pasokan mulai terjadi sejak 2015 silam dan diprediksi berlanjut hingga 2020 nanti. Dalam periode itu, tingkat okupansi diperkirakan tidak maksimal.

Selanjutnya, pasokan ruang perkantoran diproyeksi mulai berkurang pada 2021, sehingga tingkat okupansi bisa membaik.

"Dalam jangka panjang, setelah 2021 pasokan akan berkurang, permintaan tetap kuat sehingga tingkat okupansi tumbuh," imbuhnya.

Ia bilang mayoritas ruang perkantoran sebesar 43 persen disewa oleh perusahaan berbasis teknologi, meliputi perusahaan online marketplace, co-working, financial technology (fintech), game online, dan travel. Sisanya, sebesar 57 persen disewa oleh perusahaan nonteknologi.

Kawasan Non-CBD

Sebaliknya, tingkat okupansi perkantoran di kawasan non-CBD naik 3 persen dari 76 persen menjadi 79 persen pada kuartal II 2019. Total penyerapan ruang kantor di kawasan non CBD mencapai 79 ribu meter persegi lebih tinggi daripada kawasan CBD.


Ia menuturkan kenaikan okupansi perkantoran di kawasan non-CBD didorong kenaikan permintaan. Kondisi ini terjadi sejak 2015.

"Permintaan yang besar terjadi pada kuartal II 2019," paparnya.

JLL mencatat tambahan 118 ribu meter persegi perkantoran di kawasan non-CBD sepanjang kuartal II 2019. Sementara sejak awal tahun, angkanya mencapai 146 ribu meter persegi. Jumlah ini diprediksi terus bertambah hingga akhir tahun mencapai 323 ribu meter persegi.

Secara total, ketersediaan pasokan ruang perkantoran di Jakarta mencapai 7,3 juta meter persegi. Rinciannya, 6,4 juta meter persegi di kawasan CBD dan 2,9 juta meter persegi di kawasan non-CBD. (ulf/agi)