Produksi Minyak di Teluk Meksiko Pulih, Harga Minyak Keok

CNN Indonesia | Jumat, 19/07/2019 07:20 WIB
Produksi Minyak di Teluk Meksiko Pulih, Harga Minyak Keok Ilustrasi kilang minyak. (ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia merosot sekitar 2,5 persen pada perdagangan Kamis (18/7) waktu Amerika Serikat (AS). Penurunan dipicu oleh pelemahan pasar modal AS dan ekspektasi meningkatnya produksi minyak di Teluk Meksiko.

Dilansir dari Reuters, Jumat (20/7), harga minyak mentah berjangka Brent terseret US$1,73 atau 2,7 persen menjadi US$61,93 per barel.

Kondisi serupa juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,48 atau 2,6 persen menjadi US$55,3 per barel.


Reuters melaporkan sejumlah pelaku pasar menyatakan proyeksi harga minyak untuk jangka panjang semakin tertekan. Spekulator juga telah memilih keluar dari posisi opsi yang dapat memberikan tekanan terhadap harga yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

Produksi minyak dan gas (migas) lepas pantai AS kembali beroperasi sejak Teluk Meksiko diterjang oleh Badai Tropis Barry pekan lalu. Akibat badai tersebut, perusahaan migas setempat mengevaluasi pekerjanya dan memangkas produksinya.


Pada Rabu (18/7) lalu, salah satu produsen migas utama di Teluk Meksiko, Royal Dutch Shell menyatakan rata-rata harian produksinya telah kembali sekitar 80 persen.

"Pekan ini situasi sangat berbeda (dengan pekan lalu) dan setiap orang tengah mencoba untuk keluar dari pasar," ujar Direktur Energi Mizuho Bob Yawger di New York.

Yawger mengingatkan, pekan lalu, perusahaan di Teluk Meksiko berhadapan dengan badai disusul jumlah stok minyak mentah AS yang merosot 9 juta barel.

Pada Rabu (17/7), harga minyak merosot usai terjadi kenaikan tajam stok bahan bakar minyak AS, salah satunya bensin. Kondisi tersebut mencerminkan lemahnya permintaan selama musim mengemudi di AS. Padahal, biasanya, konsumsi bensin menanjak di musim panas.

Badan Administrasi Informasi Energi AS juga menunjukkan penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan pekan lalu.


Harga minyak juga mendapatkan tekanan dari kekhawatiran terhadap perekonomian mengingat pelemahan pasar modal AS telah terjadi selama tiga pekan berturut.

Tensi di Timur Tengah juga mempengaruhi pergerakan pasar selama beberapa pekan terakhir.

Harga minyak mentah menanjak di awal sesi perdagangan usai Iran menyatakan telah menyandera kapal minyak asing di Teluk. Lalu, harga minyak tertekan setelah tersebar informasi kapal tersebut hanya mengangkut sebuah kargo kecil dan ditahan pada Minggu (14/7) lalu karena menyelundupkan bahan bakar.

"Reaksi harga minyak pada perdagangan Kamis sekali lagi menunjukkan konflik di Timur Tengah masih jauh dari penyesuaian dan tensi dapat memanas kapanpun," ujar Analis UBS Giovanni Staunovo.
[Gambas:Video CNN]
Menurut Staunovo, jika minyak terus mengalir harga hanya akan naik sementara.

Inggris telah berkomitmen untuk mempertahankan kepentingan pengapalannya di Timur Tengah. Kemudian, Jenderal Komando Pusat AS Kenneth Mc Kenzie menyatakan AS akan bekerja dengan agresif agar jalur pengapalan bebas dilewati setelah serangan terhadap kapal tanker minyak di kawasan Teluk baru-baru ini.

Iran menyatakan kapal yang disita merupakan kapal yang ditarik pada Minggu lalu setelah kapal tersebut mengirim panggilan darurat. Rabu (17/7) lalu, Pemerintah AS menyatakan mereka tidak yakin apakah kapal tanker yang ditarik di perairan Iran disandera atau diselamatkan. (sfr/agi)