Antisipasi Suku Bunga The Fed dan Harga Minyak Tekan Rupiah

CNN Indonesia | Senin, 22/07/2019 16:41 WIB
Antisipasi Suku Bunga The Fed dan Harga Minyak Tekan Rupiah Ilustrasi mata uang. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.943 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Senin (22/7). Dengan demikian, maka rupiah melemah tipis 0,04 persen dibandingkan penutupan Jumat (19/7) yakni Rp13.934 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.963 per dolar AS atau melemah dibanding Jumat lalu, yakni Rp13.913 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp13.943 per dolar AS hingga RpRp13.968 per dolar AS.

Sore hari ini, pergerakan mata uang utama Asia bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang melemah seperti yuan China sebesar 0,01 persen, yen Jepang melemah 0,12 persen, rupee India melemah 0,28 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,34 persen.


Namun, terdapat pula mata uang yang menguat terhadap dolar AS seperti dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen, dolar Singapura sebesar 0,01 persen, baht Thailand sebesar 0,01 persen, dan peso Filipina sebesar 0,03 persen. Di sisi lain, ringgit Malaysia malah stagnan terhadap dolar AS.


Sementara itu, pergerakan mata uang negara maju juga bervariasi terhadap dolar AS. Euro dan poundsterling Inggris masing-masing melemah sebesar 0,02 persen dan 0,29 persen, sementara dolar Australia menguat 0,01 persen terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah kali ini masih didukung oleh sentimen global.

Pertama, fokus pelaku pasar akan tertuju pada keputusan suku bunga acuan bank sentral global dalam dua pekan ke depan. Rencananya, bank sentral Eropa dan bank sentral Jepang akan mengumumkan kebijakannya pekan ini.

Kemudian, bank sentral AS The Fed juga akan mengumumkan kebijakan suku bunga acuannya pekan depan. Hanya saja, pelaku pasar menilai sinyal penurunan Fed Rate tidak sekencang yang diharapkan setelah salah satu pejabat The Fed memupuskan harapan tersebut.


"Presiden The Fed New York John Williams mengklarifikasi pernyataan sebelumnya bahwa The Fed harus agresif dalam menurunkan suku bunga acuan, Fed Rate. Ternyata, pernyataan itu merupakan analisis pribadinya dan bukan arah Fed Rate ke depan," tutur Ibrahim, Senin (22/7).

Faktor kedua, lanjut dia, adalah kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, produsen utama minyak dunia. Jika gesekan terjadi, maka ada potensi pengetatan persediaan dan berujung ke kenaikan harga minyak dunia.

"Kenaikan harga minyak merupakan sentimen negatif bagi rupiah. Sebab, Indonesia adalah negara net importir minyak yang harus mengimpor demi memenuhi kebutuhan dalam negeri. Akibatnya, neraca perdagangan dan transaksi berjalan akan semakin terbebani," papar dia.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)