Pelaku Pasar Wait and See, Rupiah Melemah Lagi

CNN Indonesia | Selasa, 30/07/2019 16:52 WIB
Pelaku Pasar Wait and See, Rupiah Melemah Lagi Ilustrasi mata uang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.028 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (30/7) sore. Angka itu melemah 0,05 persen dibanding penutupan Senin (29/7), yakni Rp14.020 per dolar AS.

Sementara itu, kurs refrensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.034 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.010 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di dalam rentang Rp14.018 hingga Rp14.036 per dolar AS.

Mayoritas mata uang utama Asia menguat pada sore hari ini seperti dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen, dolar Singapura sebesar 0,02 persen, won Korea Selatan sebesar 0,13 persen, dan baht Thailand sebesar 0,13 persen. Kemudian, yuan China menguat sebesar 0,15 persen, yen Jepang sebesar 0,17 persen, dan peso Filipina sebesar 0,31 persen.


Hanya saja, terdapat pula mata uang yang melemah seperti rupee India sebesar 0,04 persen dan ringgit Malaysia sebesar 0,18 persen.


Di sisi lain, pergerakan mata uang negara maju juga bervariasi terhadap dolar AS. Euro menguat 0,01 persen, namun dolar Australia melemah 0,13 persen dan poundsterling Inggris melemah 0,43 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan saat ini pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam menanti kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS The Fed yang diumumkan Rabu (31/7) esok. Sejatinya, pelaku pasar berharap bahwa The Fed bisa memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dan menjadi penurunan suku bunga pertama dalam satu dekade terakhir.

Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar juga cenderung wait and see dengan rilis pertumbuhan ekonomi kuartal II yang akan dirilis pada pekan depan. Terlebih, neraca perdagangan Indonesia terus mencatat defisit antara April hingga Juni, sehingga tidak bisa menopang pertumbuhan ekonomi secara maksimal.


"Tapi kemungkinan PDB kuartal II akan lebih bagus dibandingkan kuartal I, tentu ini sangat membantu demi menopang pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2019," kata Ibrahim, Selasa (30/7). (glh/lav)