Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menorehkan angka defisit sebesar US$2 miliar pada kuartal II 2019. Sementara, NPI per semester I 2019 hanya mencatatkan surplus minim sekitar US$400 juta.
"Kami semua tahu, di bidang perdagangan internasional, indikator neraca pembayaran saya kira menjadi titik lemah yang utama," ungkap Darmin di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8).
Menurut Darmin, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif terjaga karena beberapa indikator terus menunjukkan perbaikan. Misalnya, pertumbuhan ekonomi yang sempat menyentuh kisaran 4,9 persen, kini cukup stabil di kisaran 5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di pemerintah Pak Jokowi, kami mampu mewujudkan pertumbuhan yang mungkin bukan yang paling tinggi, tapi cukup baik di antara negara dalam lingkungan global yang sedang bergejolak. Tapi, tentu ini tidak berarti semua beres," jelasnya.
"Sebenarnya, bukan petani pindah dari desa, pertanian ke industri. Dia (petani) bisa tetap bertani, tapi tidak sendiri. Harus ada manajemen cluster, ini yang namanya transformasi," jelasnya.
"Pembangunan infrastruktur tetap harus terus berlanjut. Pemerintah juga menyiapkan SDM dengan program besar reformasi," imbuhnya.
Lebih lanjut, pemerintah juga akan terus meningkatkan realisasi investasi ke sektor riil untuk pembangunan industri, baik hulu hingga ke hilir. Tak ketinggalan, penguatan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal akan terus dilakukan.
[Gambas:Video CNN]
(uli/sfr)