EDUKASI KEUANGAN

Siasat Atur Keuangan Hadapi Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 10/08/2019 08:20 WIB
Siasat Atur Keuangan Hadapi Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Ilustrasi. (Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ibarat pepatah, sedia payung sebelum hujan tampaknya perlu diterapkan ketika Anda ingin menjaga kesehatan. Tak hanya menjalankan pola hidup sehat, namun Anda juga perlu menyiapkan asuransi kesehatan sebagai bantalan ketika sakit datang.

Apalagi, jenis penyakit kian beragam dan kompleks di era masa kini. Begitu juga dengan biaya yang harus dikeluarkan, kian hari terasa makin mahal. Oleh karenanya, Anda perlu memiliki asuransi kesehatan.

Perencana Keuangan dari Oneshildt Financial Planning Agustina Fitria mengatakan salah satu jenis asuransi kesehatan yang bisa Anda manfaatkan adalah Program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN KIS) yang dikelola BPJS Kesehatan.


Asuransi ini memang memiliki keunggulan dari sisi premi atau tarif iuran kepesertaan dan jaminan perlindungan yang tak terbatas oleh rentang usia.

"Kalau asuransi swasta biasanya hanya mau tanggung sampai usia 65 tahun hingga 70 tahun, sementara BPJS Kesehatan sampai meninggal. Selain itu, preminya relatif murah," kata Agustina kepada CNNIndonesia.com, Jumat (9/8).

Saat ini, ada empat kelas tarif iuran, yaitu Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang mendapat subsidi dari negara dan tiga kelas iuran mandiri. Terdiri dari kelas I, II, dan III. Untuk kelas PBI, tarif yang dikenakan sebesar Rp23 ribu per peserta.

Sementara tarif iuran peserta Mandiri I sebesar Rp80 ribu, Mandiri II Rp51 ribu, dan Mandiri III Rp25.500.
Sayangnya, sebentar lagi tarif iuran kepesertaan BPJS Kesehatan bakal dinaikkan pemerintah.

Pemerintah pernah menyatakan kenaikan mau tidak mau dilakukan lantaran kondisi keuangan BPJS Kesehatan selalu mengalami defisit.

[Gambas:Video CNN]

Untuk itu, wacana kenaikan pun harus dilakukan, bahkan sampai menyasar ke semua kelas. Bila tarif iuran naik, maka peserta harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi Andi Nugroho mengatakan peserta harus mengantisipasi wacana kenaikan dengan menyediakan alokasi berlebih. Sebab, pembayaran iuran merupakan hal penting karena bertujuan untuk menjamin biaya kesehatan.

Untuk itu, alokasi pembayaran iuran kepesertaan BPJS Kesehatan sebaiknya diambil dari pos keuangan tetap, bukan dana darurat. Sebaiknya, menurut Andi, alokasi pembayaran iuran langsung di-auto debet dari rekening ketika masa pembayaran datang.

"Agar uangnya tidak terpakai untuk hal lain, soalnya kesehatan ini penting. Baru setelah itu kalau ada sisa, tinggal dihemat untuk pengeluaran yang lain," ungkap Andi.

Bila kenaikan tarif iuran tetap tidak sesuai dengan alokasi dana, maka tidak ada salahnya untuk turun kelas demi menyesuaikan besaran iuran yang harus dibayar. Misalnya, semula Anda menjadi peserta dengan kelas Mandiri I, namun karena merasa jarang memanfaatkan asuransi atau tidak apa bila harus tidur di ruang rawat inap yang berisi beberapa orang.

Maka, tak ada salahnya Anda turun kelas. "Asal ingat dengan konsekuensinya, yaitu kenyamanan," celetuknya.

Penurunan kelas sendiri, kata Andi, bisa dikondisikan. Misalnya, Anda merupakan kepala kelurga dengan satu istri dan dua anak. Maka, Anda dan istri bisa turun kelas dari Mandiri I ke Mandiri II. Namun, kedua anak tetap berada di Mandiri I.

Di sisi lain, Anda juga sejatinya bisa lebih selektif mengikuti program asuransi. Misalnya, ketika Anda sudah terdaftar sebagai pegawai tetap kantor. Maka, tidak ada salahnya bila Anda tidak mengikuti asuransi BPJS Kesehatan, tapi memanfaatkan asuransi dari kantor.

Sementara istri dan anak Anda, diikutkan ke Program BPJS Kesehatan. "Kalau ternyata jarang dipakai dan merasa selama ini tidak perlu dua kali bayar asuransi, maka ada baiknya tidak perlu ikut yang BPJS tidak apa. Kan ada asuransi kantor," tuturnya.

Pilihan lain, misalnya bagi Anda yang bekerja di sektor informal dan tidak punya bawaan asuransi kantor, maka Anda bisa saja memanfaatkan BPJS Kesehatan. Sementara para anak agar mendapat layanan paling cepat dan berkualitas, maka didaftarkan asuransi swasta.

Maklum saja, BPJS Kesehatan masih kerap dikeluhkan dari sisi jangka waktu administrasinya yang cukup panjang. Namun perlu diingat, sesuaikan program asuransi dengan premi yang pas di kantong.


(agt)