Direktur Keuangan Pertamina Pahala N Mansury mengatakan rata-rata ICP sejak awal 2019 hingga saat ini berkisar US$63 per barel. Sementara, tahun lalu, angkanya mencapai US$67 per barel.
"Iya (laba naik 112 persen). Itu (harga minyak) yang memang membedakan makanya kinerja kami tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya," ucap Pahala, Selasa (13/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, itu (kenaikan produksi minyak) sesuatu yang positif buat kami tahun ini," imbuhnya.
Sebagai informasi, perseroan membukukan laba bersih sebesar US$2,53 miliar sepanjang tahun lalu. Realisasi itu meningkat dibandingkan dengan posisi 2017 yang hanya sebesar US$2,54 miliar.
[Gambas:Video CNN]
Menurut Pahala, kenaikan laba bersih pada 2018 sejalan dengan peningkatan penjualan perseroan dari US$46 miliar menjadi US$57,9 miliar. Hal itu dipengaruhi oleh bisnis hulu perseroan dan kenaikan harga minyak Indonesia.
"Penjualan gas juga naik 30 persen ditopang Blok Mahakam. Sedangkan dari sisi ritel, bisnis tumbuh 2 persen," pungkasnya.