Neraca Dagang Tekor, Rupiah Keok ke Rp14.272 per Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 15/08/2019 16:50 WIB
Neraca Dagang Tekor, Rupiah Keok ke Rp14.272 per Dolar AS Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah bertengger di posisi Rp14.272 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (15/8) sore. Posisi tersebut melemah 0,19 persen dibandingkan Rabu (14/8) yang di Rp14.235 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.296 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.234 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp14.265 hingga Rp14.305 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Tercatat, yuan China melemah 0,07 persen, ringgit Malaysia 0,08 persen, baht Thailand 0,13 persen, won Korea Selatan 0,3 persen, dan peso Filipina 0,48 persen.


Di sisi lain, terdapat mata uang Asia yang menguat seperti dolar Hong Kong sebesar 0,05 persen, dolar Singapura 0,11 persen, dan rupee India 0,17 persen.
Sementara itu, mata uang negara maju menunjukkan penguatan seperti euro sebesar 0,04 persen, poundsterling Inggris 0,23 persen, dan dolar Australia sebesar 0,47 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah memang tertekan baik dari sisi dalam negeri maupun luar negeri.

Dari sisi domestik, kondisi neraca perdagangan yang defisit US$63,5 juta pada Juli dianggap akan membebani pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III mendatang. Jika bulan depan neraca dagang kembali tekor, pelaku pasar khawatir akan kondisi defisit transaksi berjalan Indonesia.

"Nantinya, akan menyulitkan BI untuk menurunkan suku bunga acuan," papar Ibrahim, Kamis (15/8).
Sementara itu, dari sisi global, pelaku pasar mengkhawatirkan ancaman resesi yang melanda di beberapa negara.

Jerman, contohnya, mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi 0,1 persen pada kuartal II lalu gara-gara ketegangan dagang. Kemudian, AS pun juga dikhawatirkan jatuh ke dalam resesi setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek kini lebih tinggi dibanding jangka panjang, atau biasa disebut inverted yield curve.

Sebagai catatan, inversi menunjukkan bahwa risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Selama ini, inversi kerap dikaitkan dengan pertanda resesi.

"Jadi, jangan berharap banyak pasar keuangan Indonesia bakal kedatangan arus modal yang deras hari ini. Akibatnya, sangat sulit bagi rupiah untuk kembali menguat," pungkas dia.
(glh/sfr)