Bukan RAPBN 2020, Penguatan Rupiah Hari Ini Didorong Global

CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 16:37 WIB
Bukan RAPBN 2020, Penguatan Rupiah Hari Ini Didorong Global Ilustrasi mata uang.(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.245 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (16/8) sore. Rupiah menguat 0,2 persen dibandingkan penutupan pada Kamis (15/8) yakni Rp14.272 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.258 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.296 per dolar AS. Rupiah pada hari ini berada di dalam rentang Rp14.226 per dolar AS hingga Rp14.268 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong menguat 0,01 persen, dolar Singapura menguat 0,09 persen, rupee India menguat 0,16 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,29 persen.


Kemudian, ringgit Malaysia menguat 0,35 persen dan peso Filipina menguat 0,41 persen. Sementara itu, terdapat pula mata uang yang melemah yakni yuan China 0,09 persen, baht Thailand 0,13 persen, dan yen Jepang 0,21 persen.


Sementara itu, mata uang negara maju juga menguat terhadap dolar AS seperti dolar Australia 0,13 persen dan poundsterling Inggris menguat 0,45 persen. Namun, euro melemah 0,22 persen terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan rupiah hari ini masih didominasi sentimen eksternal. Pengaruh pertama datang dari Amerika Serikat yang mencatat kenaikan penjualan ritel sebesar 0,7 persen pada Juli lalu.

Sejatinya, ini bisa menjadi angin negatif bagi rupiah. Hanya saja, dampak ini tertahan oleh kondisi inverted yield curve yang dialami AS. Adapun, inverted yield curve adalah kondisi di mana obligasi pemerintah bertenor pendek lebih tinggi dibanding jangka panjang.

Inverted yield curve ini mengindikasikan bahwa AS tengah memasuki tanda-tanda resesi.


"Inversi dalam kurva imbal hasil obligasi AS ini secara historis telah mengawali beberapa kondisi resesi AS di masa lampau. Ini memicu kekhawatiran baru tentang dampak ekonomi dari perang perdagangan AS-China," jelas Ibrahim, Jumat (16/8).

Faktor kedua adalah rilis perdagangan pada Juli 2019 ternyata jauh dari ekspektasi pasar. Memang, neraca perdagangan pada Juli defisit US$63,5 juta namun ini lebih kecil dibandingkan ekspektasi sebelumnya US$384,5 juta.

"Sehingga wajar kalau arus modal asing kembali masuk ke Indonesia, yang merupakan salah satu aset berisiko," papar dia.

(glh/lav)