Per Juli, Pertamina Serap Fame Biodiesel 3,2 Juta kl

CNN Indonesia | Kamis, 22/08/2019 13:28 WIB
Per Juli, Pertamina Serap Fame Biodiesel 3,2 Juta kl Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) mencatat penyerapan fatty acid methyl ester (FAME) untuk program campuran biodiesel pada minyak Solar hingga Juli 2019 telah mencapai 3,2 juta kiloliter (kl). Realisasi tersebut menyamai realisasi sepanjang tahun lalu dan setara dengan 59 persen dari target tahun ini.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman mengatakan tren realisasi penggunaan FAME meningkat seiring upaya perseroan untuk memasok seluruh industri dengan biosolar sesuai regulasi.

"Konsumsi biosolar terbesar ada di sektor transportasi," ujar Fajriyah seperti dikutip dari keterangan resmi, Rabu (21/8).


Sebelumnya, per 1 September 2018, implementasi program pencampuran 20 persen FAME ke dalam Solar (B20) sudah diperluas ke sektor yang tidak mendapatkan subsidi. Artinya, saat ini penjualan B20 sudah dilakukan baik di sektor yang mendapatkan subsidi maupun yang non subsidi.

Saat ini, perseroan memiliki 111 terminal bahan bakar minyak (TBBM) yang siap untuk mendistribusikan B20. Sementara, titik pencampuran FAME dilaksanakan di 29 titik pencampuran yaitu 26 TBBM dan tiga kilang.

Sejak Mei 2019, perusahaan minyak pelat merah ini tidak lagi melakukan impor minyak diesel karena kebutuhan Solar di dalam negeri sudah bisa dipenuhi dari hasil produksi kilang-kilangnya sendiri.

Untuk sektor industri, sambung ia, perseroan melayani seluruh sektor industri yang membutuhkan jenis BBM diesel dengan biosolar. Hingga saat ini, sektor listrik dan pertambangan adalah dua sektor industri terbesar yang menyerap biosolar.

Terkait dengan penerbitan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untukTransportasi Jalan, Fajriyah mengatakan perseroan mendukung upaya pemerintah untuk mengembangkan energi baru dan terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

"Sumber energi alternatif apapun, selama memang baik dan prospek untuk dikembangkan, perlu didukung pengembangannya. Kita semua berharap, ke depannya Indonesia akan memiliki lebih banyak pilihan untuk energi alternatif yang ramah lingkungan," tambahnya.

Menurut ia, pengembangan mobil listrik dan program B20 memiliki segmentasi masing-masing dengan kemanfaatan yang berbeda. Sebagai bentuk dukungan perseroan, saat ini sudah tersedia stasiun pengisian listrik untuk umum di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kuningan, Jakarta. SPBU itu memiliki empat unit stasiun pengisian baterai (charging station).

Sebanyak dua unit merupakan tipe pengisian cepat (fast charging) yang mampu mengisi penuh baterai kendaraan listrik dalam waktu kurang dari 15 menit dan dua unit lainnya merupakan tipe normal charging.

"Ini merupakan bukti komitmen perusahaan untuk mendukung upaya pengembangan energi alternatif," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)