Dikutip dari laporan Moody's Investor Service, jumlah penerbitan sukuk Indonesia hanya lebih kecil dibanding Malaysia yang menerbitkan sukuk senilai US$36 miliar, atau sekitar 41 persen dari total penerbitan sukuk dunia. Selain itu, Moody's juga mencatat pertumbuhan penerbitan sukuk Indonesia bertenor panjang bertumbuh 22 persen secara tahunan.
"Saat ini, negara-negara seperti Malaysia, Indonesia, dan negara-negara teluk memiliki kecenderungan untuk mencampur pendanaannya dengan instrumen pembiayaan Islam," ujar Moody's dikutip dari keterangan resmi, Rabu (28/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di semester ini, Moody's memperkirakan penerbitan sukuk dunia bisa menembus US$43 miliar. Dengan kata lain, jumlah penerbitan sukuk dunia hingga akhir tahun ini bisa menyentuh US$130 miliar.
Hanya saja, pertumbuhan penerbitan sukuk hingga akhir tahun hanya bertumbuh 6 persen atau lebih kecil dibanding tahun sebelumnya yakni 8 persen. Moody's beralasan, kenaikan harga minyak dunia menyebabkan negara-negara teluk menerima kenaikan penerimaan negara. Sehingga, mereka juga mengurangi pembiayaan demi menutupi defisit anggaran pemerintahnya. Walhasil, secara otomatis, penerbitan sukuk global juga ikut melandai.
"Di Indonesia, pemerintah akan tetap aktif menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan tenor jangka menengah di sisa tahun ini melalui mekanisme reguler," pungkas laporan itu.
[Gambas:Video CNN] (glh/lav)