Moody's Sebut RI Penerbit Sukuk Terbesar Kedua Dunia

CNN Indonesia | Rabu, 28/08/2019 15:40 WIB
Moody's Sebut RI Penerbit Sukuk Terbesar Kedua Dunia Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia dinobatkan menjadi negara penerbit sukuk kedua terbesar dunia sepanjang semester I 2019. Dengan nilai penerbitan sebesar US$15 miliar atau Rp214 triliun, pemerintah mengambil porsi 18 persen dari total penerbitan sukuk dunia sebesar US$87 Miliar atau setara Rp1.244 triliun.

Dikutip dari laporan Moody's Investor Service, jumlah penerbitan sukuk Indonesia hanya lebih kecil dibanding Malaysia yang menerbitkan sukuk senilai US$36 miliar, atau sekitar 41 persen dari total penerbitan sukuk dunia. Selain itu, Moody's juga mencatat pertumbuhan penerbitan sukuk Indonesia bertenor panjang bertumbuh 22 persen secara tahunan.

"Saat ini, negara-negara seperti Malaysia, Indonesia, dan negara-negara teluk memiliki kecenderungan untuk mencampur pendanaannya dengan instrumen pembiayaan Islam," ujar Moody's dikutip dari keterangan resmi, Rabu (28/8).


Laporan itu menyebut, salah satu alasan besarnya penerbitan sukuk Indonesia adalah penerbitan sukuk hijau (green sukuk) pada Februari lalu sebesar US$2 miliar. Green sukuk ini diterbitkan oleh pemerintah sebagai bagian dari pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019.

Moody's meramal, Indonesia akan memperluas penggunaan green sukuk seiring komitmen Indonesia untuk menurunkan kadar emisi karbon dan membangun proyek-proyek yang lebih ramah lingkungan. Bahkan, ada kemungkinan langkah Indonesia dalam menerbitkan green sukuk akan diikuti oleh negara-negara lain, utamanya negara-negara teluk.

"Banyak organisasi internasional di Timur Tengah dan Afrika Utara, termasuk Bank Pembangunan Islam (IDB) dan Kerja Sama Negara Islam untuk Pembangunan Sektor Swasta (ICD) kemungkinan akan mencari cara untuk mendiversifikasi portfolio investasi mereka menuju proyek energi baru dan terbarukan. Sehingga, ini bisa mendukung penerbitan green sukuk yang lebih banyak," imbuh laporan tersebut.

Di semester ini, Moody's memperkirakan penerbitan sukuk dunia bisa menembus US$43 miliar. Dengan kata lain, jumlah penerbitan sukuk dunia hingga akhir tahun ini bisa menyentuh US$130 miliar.

Hanya saja, pertumbuhan penerbitan sukuk hingga akhir tahun hanya bertumbuh 6 persen atau lebih kecil dibanding tahun sebelumnya yakni 8 persen. Moody's beralasan, kenaikan harga minyak dunia menyebabkan negara-negara teluk menerima kenaikan penerimaan negara. Sehingga, mereka juga mengurangi pembiayaan demi menutupi defisit anggaran pemerintahnya. Walhasil, secara otomatis, penerbitan sukuk global juga ikut melandai.

"Di Indonesia, pemerintah akan tetap aktif menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan tenor jangka menengah di sisa tahun ini melalui mekanisme reguler," pungkas laporan itu.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)