OJK Klaim Rasio Menabung RI Kalah dari Filipina

CNN Indonesia | Rabu, 29/05/2019 05:51 WIB
OJK Klaim Rasio Menabung RI Kalah dari Filipina Ilustrasi menabung. (Skitterphoto/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim rasio menabung masyarakat Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih kalah dengan negara tetangga di Asia, khususnya Filipina. Hal itu disebut-sebut karena masyarakat lebih suka konsumsi.

Deputi komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sarjito menyebutkan rasio menabung terhadap PDB di Indonesia hanya 30,78 persen. Angka itu, menurut Sarjito, jauh lebih rendah dibanding rasio menabung masyarakat Filipina, meski ia tak menyebutkan secara rinci nominalnya.

"Ini memang kebiasaan kita (masyarakat Indonesia) suka konsumsi. Kalau menabung semua juga tidak bagus tapi rasio menabung terhadap PDB harusnya juga lebih baik," tutur Sarjito, Selasa (28/5).


Padahal, kata Sarjito, dana tabungan di rekening bank bisa digunakan untuk pembangunan nasional. Misalnya, mengucurkan kredit ke sejumlah investor yang berencana untuk berekspansi.


Masalahnya, selama ini pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tak secepat kredit. Data OJK menunjukkan DPK per April 2019 hanya meningkat 6,63 persen secara tahunan, sedangkan kredit mencapai 11,05 persen.

"Kredit tumbuh dua digit, tapi DPK tidak. Kalau DPK tidak ada maka investor asing kan bisa masuk atau jadi menambah utang. Utang ke mana? Asing. Padahal kalau semua bisa dilakukan sendiri kenapa tidak," papar Sarjito.

Untuk meningkatkan DPK, OJK kini gencar mendorong pelajar untuk menabung melalui program simpanan pelajar atau SimPel/SimPel iB. Tak sendiri, pemerintah lewat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Agama, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga ikut mendukung program tersebut.

"Ini kami lagi meminta surat edaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun Kementerian Agama untuk ke daerah-daerah yang menyatakan bahwa semua pelajar wajib menabung," terangnya.


Setelah itu, perbankan bisa lebih gencar mengunjungi sejumlah sekolah di daerah untuk mengajak pelajar mulai menabung di bank. Namun, Sarjito tak menyebut secara jumlah tabungan pelajar yang ditargetkan oleh OJK dan pemerintah.

"Kalau realisasinya akhir Desember 2018 ada 17 juta rekening dengan nominalnya Rp6,6 triliun. Kalau semakin didorong kan bisa dapat lebih oke," jelas Sarjito.

[Gambas:Video CNN] (aud/lav)