Direktur J Resources William Surnata mengatakan instrumen tersebut merupakan obligasi berkelanjutan pertama yang dilakukan korporasi. Pada tahap awal, rencananya korporasi akan menerbitkan obligasi senilai Rp500 miliar di tahun ini dengan tenor tiga tahun.
Namun, nilai obligasi yang akan diterbitkan pada tahap II dan seterusnya bergantung kebijakan penjamin emisi, yakni PT BNI Sekuritas dan PT Indo Premier Sekuritas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, penerbitan obligasi sengaja dilakukan tahun ini karena perseroan butuh uang untuk pembiayaan kembali (refinancing) utang yang akan jatuh tempo dalam bentuk Medium term Note (MTN). Adapun, total MTN yang akan jatuh tempo tahun depan mencapai Rp1,8 triliun dalam rentang Juni 2020 hingga Febrari 2021.
"Setelah refinancing, kami masih ada sisa dana dari obligasi. Selain belanja modal, selebihnya kami simpan sebagai existing loan di dalam neraca kami," jelas dia.
Setelah ini, perseroan tidak berencana lagi menggaet pendanaan lain. Terlebih, perusahaan juga telah menarik pendanaan sindikasi dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk senilai US$231 juta atau sekitar Rp3,3 triliun.
[Gambas:Video CNN]
"Selain itu juga ada tambahan US$135 juta untuk pembangunan pabrik pengolahan emas. Kami perusahaan konservatif, kalau misalnya kami meminjam uang terus nanti tidak berdampak baik ke neraca perusahaan," jelas dia.
Hingga kuartal I kemarin, perusahaan mencatat pendapatan penjualan sebesar US$64,02 juta atau meningkat 10,24 persen dibanding tahun sebelumnya US$58,07 juta. Ini juga berimbas ke laba bersih yang dibukukan perusahaan yakni US$5,77 miliar, atau meningkat 79,75 persen dibanding tahun lalu US$3,21 juta. (glh/agt)