BI Nilai Sifat Konsumtif Milenial Bantu Perkuat Ekonomi RI

CNN Indonesia | Sabtu, 07/09/2019 08:05 WIB
BI Nilai Sifat Konsumtif Milenial Bantu Perkuat Ekonomi RI Destry menilai sifat konsumtif milenial membantu ketahanan perekonomian Indonesia. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia -- Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai sifat konsumtif generasi milenial membantu memperkuat perekonomian Indonesia.

Untungnya, sifat konsumtif itu dibarengi oleh karakteristik generasi muda yang masih produktif sehingga memiliki daya beli (buying power). Bahkan, generasi milenial berani besar pasak daripada tiang karena menganggap karir masih panjang.

"Kalau anak muda gajinya Rp10 juta atau Rp20 juta berani belanja Rp30 juta karena punya future income (pendapatan di masa mendatang)," ujar Destry di Museum Bank Indonesia, seperti dikutip dari Antara, Jumat (6/9).


Kondisi Indonesia, sambung ia, berbeda dengan Eropa dan Jepang yang mayoritas penduduknya sudah berusia tua. Hal itu membawa masalah karena penduduk berusia tua cenderung tidak konsumtif dan lebih memilih untuk menabung.

Saat ini, BI berusaha mendorong produktivitas generasi milenial dengan lebih aktif di sektor digital. Misalnya, menciptakan sistem yang menghubungkan (interlink) antara bank konvensional dan digital.

Ia juga mengimbau agar era teknologi dimanfaatkan secara maksimal oleh generasi milenial dengan pikiran yang terbuka dengan pengetahuan baru. Jika itu dilakukan, ia yakin beragam inovasi bisa muncul dan semakin mengerek perekonomian negara.

"Era digital enggak bisa dihindari jadi kita enggak boleh against (melawan) ekonomi digital. Jangan anggap sebagai disrupsi.

Peneliti Institute or Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus menilai perekonomian Indonesia memang diuntungkan karena sebagian besar ditopang oleh faktor domestik, yaitu konsumsi rumah tangga.
[Gambas:Video CNN]
Sementara, kombinasi investasi, belanja pemerintah, dan perdagangan internasional kontribusinya tidak sampai separuh terhadap perekonomian.

"Ekonomi kita tumbuh itu paling besar dikarenakan ekonomi domestiknya masih kuat seperti konsumsi rumah tangga yang menjadi andalan utama bagi pertumbuhan ekonomi kita," ujar Ahmad.
(Antara/sfr)