Habibie Sukses Redam Marah Rakyat Saat Krisis Ekonomi 1998

CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 12:55 WIB
Habibie Sukses Redam Marah Rakyat Saat Krisis Ekonomi 1998 Menteri ATR/ Kepala BPN Sofyan Djalil. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil merasa sangat kehilangan sosok Presiden Indonesia ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie yang meninggal pada Rabu (11/9) kemarin. Pasalnya,  jasa Habibie sangat besar bagi Tanah Air, khususnya ketika mengawal peralihaan era Orde Baru ke Reformasi.

"Saya tidak bisa bayangkan reformasi akan berjalan begitu smooth kalau presidennya bukan Pak Habibie waktu itu," ujar Sofyan serasa mengenang Bapak Teknologi Indonesia itu, Kamis (12/9).

Habibie, katanya, merupakan sosok yang mampu meredam segala bentuk kemarahan dan kekecewaan yang sempat ditumpahkan masyarakat kepada pemerintah pada 1998. Kala itu, masyarakat ingin Presiden Indonesia Soeharto turun dari tahta.


Setelah pemerintahan Soeharto jatuh. Habibie mendapat sisa-sisa kemarahan dan ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah. Namun, ia bisa meredamnya.

Bahkan, tak hanya meredam. Habibie, sambungnya, justru bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Ia melakukannya dengan pendekatan dari berbagai sudut.

Ia memberi kembali kebebasan kepada pers, partai politik, hingga menegakkan kembali perlindungan hukum dan hak asasi manusia. "Pada 1998, ketika kemarahan orang kepada sistem pemerintah begitu kuat, waduknya dibuka supaya kekuatan air bah (kemarahan masyarakat) tidak menerjang waduk dan merusak semuanya," kisahnya.

Usai kepercayaan kembali utuh, peran Habibie kepada Indonesia terus diuji. Ia juga harus mengembalikan perekonomian Indonesia ke kondisi yang sehat, meski gelombang krisis moneter terlanjur menghancurkan fondasi ekonomi dalam negeri.

"Dalam waktu yang relatif singkat, kondisi yang sangat buruk itu bisa dibalik, walaupun tidak menyelesaikan masalah dalam satu malam," terangnya.

[Gambas:Video CNN]
Sofyan pun menempatkan Habibie sebagai tokoh yang mampu membuat Indonesia 'lepas landas' seperti kegemarannya pada sektor dirgantara. Bila Presiden Indonesia pertama Soekarno mampu membuat masyarakat merasakan kemerdekaan dan Soeharto memberikan pembangunan masif kepada Indonesia, Habibie pun melakukan perannya sendiri.

"Habibie menjadi Bapak yang menyiapkan Indonesia menjadi negara demokratis, seperti yang kita alami saat ini," pungkasnya.

Habibie menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta pada Rabu (11/9). Habibie meninggal pada pukul 18.05 WIB di usia 83 tahun. Rencananya, ia akan disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan pada siang ini.

(uli/agt)