"Saya tidak bisa bayangkan reformasi akan berjalan begitu smooth kalau presidennya bukan Pak Habibie waktu itu," ujar Sofyan serasa mengenang Bapak Teknologi Indonesia itu, Kamis (12/9).
Habibie, katanya, merupakan sosok yang mampu meredam segala bentuk kemarahan dan kekecewaan yang sempat ditumpahkan masyarakat kepada pemerintah pada 1998. Kala itu, masyarakat ingin Presiden Indonesia Soeharto turun dari tahta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai kepercayaan kembali utuh, peran Habibie kepada Indonesia terus diuji. Ia juga harus mengembalikan perekonomian Indonesia ke kondisi yang sehat, meski gelombang krisis moneter terlanjur menghancurkan fondasi ekonomi dalam negeri.
"Dalam waktu yang relatif singkat, kondisi yang sangat buruk itu bisa dibalik, walaupun tidak menyelesaikan masalah dalam satu malam," terangnya.
[Gambas:Video CNN]
Sofyan pun menempatkan Habibie sebagai tokoh yang mampu membuat Indonesia 'lepas landas' seperti kegemarannya pada sektor dirgantara. Bila Presiden Indonesia pertama Soekarno mampu membuat masyarakat merasakan kemerdekaan dan Soeharto memberikan pembangunan masif kepada Indonesia, Habibie pun melakukan perannya sendiri.
"Habibie menjadi Bapak yang menyiapkan Indonesia menjadi negara demokratis, seperti yang kita alami saat ini," pungkasnya.
Habibie menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta pada Rabu (11/9). Habibie meninggal pada pukul 18.05 WIB di usia 83 tahun. Rencananya, ia akan disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan pada siang ini.