Habibie, Teknik Aeronautika dan Kesuksesan Tekuk Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 11:37 WIB
Habibie, Teknik Aeronautika dan Kesuksesan Tekuk Dolar AS BJ Habibie saat disumpah menjadi presiden menggantikan Soeharto. (REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden ke- 3 Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie mangkat. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (12/9) petang kemarin di usia 83 tahun.

Pemerintah pun menetapkan kepergian tokoh berjuluk Mr. Crack tersebut sebagai momen berkabung nasional selama tiga hari sampai Sabtu (14/9). Maklum, Habibie memang memiliki banyak jasa bagi Indonesia Indonesia.

Peninggalannya tersebar di berbagai bidang, seperti teknologi, transportasi, sepak bola, hingga perekonomian dalam negeri. Di bidang ekonomi, Habibie berjasa membawa Indonesia keluar dari krisis ekonomi besar yang melanda Indonesia pada 1998 lalu.

Cerita berawal saat Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya pada Kamis 21 Mei 1998 lalu. Sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945, posisi presiden yang saat itu ditinggalkan oleh Soeharto harus diisi oleh Habibie yang saat itu menjadi wakil presiden.


Namun apes, mendapatkan jabatan presiden tidak malah memberikan kenikmatan kepada Habibie. Pasalnya, saat menerima jabatan presiden, ia diwarisi kondisi ekonomi yang hancur-hancuran oleh Soeharto.

Data BPS pada kuartal I 1998, ekonomi mengalami kontraksi atau menurun 7,9 persen. Pada kuartal II, ekonomi mengalami kontraksi 16,5 persen.

Tak hanya pertumbuhan ekonomi yang hancur, Habibie juga diwarisi oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Pada 1 Juni 1998, atau belum genap ia menjadi presiden, nilai tukar rupiah anjlok sampai ke level atas Rp16 ribu per dolar AS.
Level tersebut merupakan yang terlemah dalam sejarah Indonesia.

Tak hanya rupiah, dua bulan menjabat, ia juga dihadapkan pada laju inflasi yang melesat sampai dengan 54,54 persen pada Agustus 1998. Namun, warisan buruk tersebut berhasil dibuangnya.

Di akhir masa pemerintahannya, rupiah bisa diturunkan kembali ke bawah level Rp7.000-an per dolar. Pertumbuhan ekonomi yang sempat minus 13,13 persen pada 1998, ia berhasil turunkan ke posisi 0,79 persen.

Sementara itu, untuk angka kemiskinan yang pada 1998 tembus 24,2 persen, ia berhasil turunkan jadi 23,4 persen. Keberhasilan tersebut tak terlepas dari beberapa kebijakan yang diambilnya saat itu.

Dirangkum dari berbagai sumber, untuk memulihkan ekonomi Indonesia yang kala itu terpuruk, Habibie menggunakan teknik pada ilmu penerbangan, aeronautika, untuk menstabilkan lagi mata uang garuda. Teknik itu merupakan ilmu yang mengajarkan tentang pengkajian, perancangan dan pembuatan mesin-mesin yang memiliki kemampuan terbang.

Dengan teknik itu, ia mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengatasi permasalahan yang menimpa ekonomi Indonesia. Salah satunya, melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui pembentukan BPPN dan unit pengelolaan aset negara.

Terkait restrukturisasi, upaya tersebut salah satunya dilakukan dengan menggabungkan empat bank milik pemerintah, Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia menjadi satu bank yang kemudian dikenal dengan sebutan Bank Mandiri.

[Gambas:Video CNN]
Upaya tersebut dilakukan demi menyehatkan perbankan dan untuk memperkuat Bank Indonesia. Upaya lain juga dilakukan Habibie dengan memisahkan jabatan BI dari struktur kabinet. Pemisahan dilakukan untuk memperkuat Bank Indonesia dalam mengatur kebijakan moneter secara mandiri.

Untuk menghindari kejatuhan ekonomi lebih jauh, Habibi juga melanjutkan kebijakan melikuidasi beberapa bank yang bermasalah. Ia juga membentuk lembaga pemantau penyelesaian masalah utang luar negeri.

Untuk mengendalikan inflasi, Habibie juga mempertahankan kebijakan subsidi BBM dan listrik.

Upaya yang dilakukan oleh Habibie tersebut berhasil meningkatkan kepercayaan pasar sehingga membuat ekonomi Indonesia perlahan-lahan bangkit dari keterpurukan. Saat menyampaikan laporan pertanggungjawaban di hadapan MPR, rupiah berada di posisi Rp6.500 per dolar AS.

(aud/agt)