Pertama adalah infrastruktur. Sri Mulyani menyatakan bahwa hal itu akan menyokong mobilitas dan mendorong pembangunan di dalam negeri. Jika keduanya tumbuh, maka efeknya ke ekonomi akan positif.
Kedua, pemerintah perlu memastikan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal. Dalam hal ini, pemerintah akan meningkatkan kualitas mereka melalui pendidikan dan riset, program kesehatan, dan perlindungan sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, Sri Mulyani menyatakan ekonomi global juga akan berdampak pada situasi di dalam negeri. Makanya, ia tak bisa menjamin 100 persen bahwa enam syarat ini akan membawa Indonesia benar-benar menjadi negara dengan ekonomi terbesar kelima pada 2045 mendatang.
"Itu bukan jaminan karena juga dihadapkan pada berbagai kemungkinan dinamika fluktuasi atau bahkan krisis yang mungkin terjadi dalam lingkungan global," terang Sri Mulyani.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan optimistis Indonesia akan masuk dalam peringkat ekonomi terbesar kelima di dunia pada 2045 mendatang. Salah satu pendorong utamanya berasal dari ekspor sejumlah komoditas bernilai tambah.
Diketahui, pemerintah kini sedang menggenjot ekspor komoditas yang sudah diolah lebih dulu di dalam negeri. Dengan demikian, nilai ekspor yang diraup akan lebih tinggi dibandingkan dengan menjual barang mentah.
"Indonesia sangat bergantung dengan komoditas, tapi sekarang pemerintah fokus pada nilai tambah," ujar Luhut.
Pemerintah saat ini sedang fokus menata hilirisasi nikel. Mulai tahun depan, pemerintah resmi melarang ekspor mineral mentah komoditas tersebut.
"Nikel di Indonesia diekspor 98 persen ke China. Kenapa tidak diolah di dalam negeri," jelas Luhut.
Selain itu, pemerintah juga akan terus menggenjot investasi dengan merevisi 72 undang-undang (UU) terkait perizinan investasi. Perombakan aturan akan dilakukan dengan skema omnibus law.
"Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memerintah kepada kami, omnibus law harus digunakan untuk merevisi lebih dari 72 uu yang sama sama lainnya sudah tidak cocok," pungkas dia.
[Gambas:Video CNN] (aud/lav)