Upaya itu dilakukan mulai dari mengerek investasi hingga meningkatkan kendali Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China di sejumlah perusahaan di hub keuangan Asia itu.
Dilansir dari Reuters, Jumat (13/9), pemerintah China meminta perwakilan dari hampir 100 perusahaan terbesar miliknya untuk membantu meredakan salah satu krisis politik terbesar China itu dalam sebuah pertemuan di Shenzhen pada pekan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang sumber dalam pertemuan tersebut mengatakan pemerintah China mendorong perusahaan negara untuk mengawasi dan mengendalikan perusahaan serta lebih berperan dalam pengambilan keputusan bisnis di Hong Kong.
"Para elit bisnis di Hong Kong tentu saja belum melakukan hal yang cukup. Sebagian besar dari mereka bukan salah satu dari kami," ujar salah satu eksekutif perusahaan pelat merah China kepada Reuters.
Pada Rabu (11/9), melalui keterangan resmi, Ketua SASAC dari Partai Komunis Hao Peng mengatakan BUMN China sedang mencari cara untuk bekerja sama dalam proyek-proyek perkotaan.
Sebagai catatan, perekonomian Hong Kong sebelumnya didominasi oleh rumah dagang Inggris pada abad ke-19. Para taipan lokal kemudian mengambil alih sebagian besar dari bisnis tersebut pada akhir abad ke-20 dan melahirkan perusahaan besar seperti CK Hutchison Holdings milik Li Ka-shing.
Pemerintah China memang menaruh perhatian pada kondisi Hong Kong di tengah aksi unjuk rasa yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Hal itu menyebabkan CEO Cathay Rupert Hogg mengundurkan diri, disusul oleh sang Chairman John Slolsar yang mengumumkan akan mengundurkan diri pada November mendatang.
Sebagai informasi, aksi ricuh di Hong Kong dipicu oleh rancangan undang-undang yang akan memungkinkan tersangka kriminal di Hong Kong diekstradiksi ke China daratan.
Hong Kong dan China sendiri memiliki sistem satu negara, dua sistem dimana China telah memerintah Hong Kong sejak terlepas dari kolonial Inggris pada 1997.
[Gambas:Video CNN] (reuters/sfr)