BTN Yakin Pelonggaran Uang Muka Rumah Angkat Sektor Properti

CNN Indonesia | Sabtu, 21/09/2019 15:10 WIB
BTN Yakin Pelonggaran Uang Muka Rumah Angkat Sektor Properti Ilustrasi. (CNNIndonesia.com/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Tabungan Negara (Persero) atau BTN menyambut baik kebijakan pelonggaran uang muka rumah yang dilakukan BI mulai 2 Desember mendatang. Mereka yakin kebijakan tersebut bisa membuat pembelian properti yang belakangan ini agak seret bisa bergairah kembali.

"Relaksasi LTV ini akan berpengaruh tidak hanya bagi pembeli rumah pertama, tapi juga investment buyers karena dapat dengan mudah dan cepat membeli properti kedua, ketiga dan seterusnya untuk dijadikan portofolio investasinya," kata Direktur Consumer Banking Bank BTN, Budi Satria dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Jumat (20/9) ini.

BI menyatakan akan melonggarkan aturan loan to value (LTV) atau uang muka kredit untuk kendaraan dan properti mulai 2 Desember 2019 mendatang. Untuk sektor properti, Gubernur BI Perry Warjiyo merinci uang muka rumah akan diturunkan sebesar 5 persen dari posisi sebelumnya.

Dengan kebijakan tersebut, Kredit Properti (KP) dan Pembiayaan Properti (PP) rumah tapak dengan tipe di atas 70 akan dikenakan uang muka 15 persen hingga 30 persen dari nilainya. Sebelumnya, uang muka untuk rumah tipe tersebut berkisar 20 persen hingga 35 persen dari nilainya.



Untuk rumah tipe 21 hingga 70 nantinya uang muka yang dikenakan sebesar 10 persen hingga 25 persen dari nilainya. Sebelumnya, rumah dengan tipe tersebut dikenakan kebijakan uang muka 15 persen hingga 30 persen dari nilainya.

Begitu pun dengan kredit rumah susun. Nanti, uang muka kredit rumah susun dengan tipe 70 ke atas akan dikenakan sebesar 15 persen hingga 30 persen dari nilainya. Sebelumnya, BI menetapkan uang muka kredit tipe tersebut sebesar 20 persen hingga 35 persen dari nilainya.

Untuk rumah susun dengan tipe 21 hingga 70, BI menetapkan nilai uang mukanya sebesar 10 persen hingga 25 persen dari nilainya, atau lebih kecil dibanding ketentuan sebelumnya yakni 15 persen hingga 30 persen. Ketentuan serupa juga berlaku untuk rumah susun dengan tipe di bawah 21.

[Gambas:Video CNN]

Sektor properti tumbuh melambat belakangan ini. Kinerja tersebut, salah satunya tercermin dari pertumbuhan kredit properti.

Data BI menunjukkan kredit properti hanya tumbuh 15,9 persen per Juli kemarin. Pertumbuhan tersebut melambat jika dibandingkan dengan Juni yang masih bisa tumbuh 16,2 persen

Selain mendorong kebangkitan penjualan properti, Budi juga optimis pelonggaran kebijakan uang muka juga akan memberikan efek ke pertumbuhan ekonomi yang besar. Pasalnya, sektor properti terhubung dengan 170 industri lainnya.

"Ini akan menjadi andalan pertumbuhan ekonomi 2020," katanya.

(agt/agt)