Walmart Bakal Setop Penjualan Vape

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 21/09/2019 12:30 WIB
Walmart Bakal Setop Penjualan Vape Ilsutrasi. (AFPTV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan retail raksasa Amerika Serikat, Walmart, bakal menyetop penjualan rokok elektrik. Keputusan ini diambil di tengah tekanan akibat meningkatnya jumlah korban meninggal akibat penggunaan vape. Selain itu juga karena peraturan pemerintah yang tak pasti mengenai penggunaan rokok elektronik.

"Mengingat semakin besarnya kompleksitas dan ketidakpastian peraturan federal, negara bagian, dan lokal mengenai rokok elektronik, kami berencana untuk menghentikan penjualan produk nikotin elektronik di semua Walmart dan Sam's Club AS. Kami akan menyelesaikannya setelah menjual seluruh inventaris rokok elektronik yang ada," tulis perusahaan melalui pernyataan resmi yang dilansir CNN (20/9).


Keputusan Walmart bisa mempengaruhi toko-toko lain dan jadi tanda kemunduran industri rokok alternatif termasuk vape. Padahal industri vape saat ini sebenarnya mengalami pertumbuhan pesat.


Firma riset Euromonitor International memberikan estimasi perusahaan vape bisa meraup US$34 miliar secara global pada 2021. Nilai ini meningkat sebanyak 176 persen dari 2016.

Langkah Walmart sendiri untuk 'undur diri' dari arena perdagangan rokok elektronik menyusul semakin banyaknya negara bagian di AS yang melarang produk tersebut.

Pada Selasa (17/9), dinas kesehatan negara bagian New York melakukan pemungutan suara agar Gubernur Andrew Cuomo melarang penjualan rokok elektronik beraroma.


Minggu lalu, Presiden Donald Trump berkata Badan Makanan dan Obat AS (FDA) bakal memberikan 'rekomendasi keras' terkait penggunaan rokok elektronik beraroma.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, Dinas kesehatan Missouri menyebut delapan orang di AS meninggal karena penyakit paru yang dikaitkan dengan vape, terakhir pada Kamis lalu.

Menurut Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit AS, hingga Selasa (17/9), sudah ada 530 kasus yang terkonfirmasi dan terduga berkaitan dengan rokok elektronik. Peningkatan jumlah kasus cukup signifikan karena pada Rabu (11/9), 'hanya' ada sebanyak 380 kasus. Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit, FDA, serta dinas kesehatan setempat terus melakukan investigasi. (els/stu)