Dalam keterangan resminya, Senin (23/9), Luhut menilai rencana pembangunan pabrik itu sebagai dampak positif dari larangan ekspor nikel demi meningkatkan hilirisasi di dalam negeri.
"Pada pertemuan dengan LG Chemical di Seoul, Korsel, beberapa hari lalu, mereka bilang sedang mempertimbangkan pengembangan fasilitas produksi baterai lithiumnya di RI, setelah mendengar rencana larangan ekspor bijih nikel dan harga di pasar global yang terus naik," ujarnya usai menghadiri ASEAN-China Expo di Nanning, China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Perang Dagang, Harga Minyak Mentah Tertekan |
Di sela-sela kunjungannya ke China, Luhut menyempatkan diri untuk bertemu dengan Wakil Ketua Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi China (NDRC) Ning Jizhe.
Dalam kesempatan itu, Ning menyampaikan dampak pelarangan ekspor nikel yang juga dirasakan negaranya, yang 50-75 persen pasokannya sangat bergantung dari Indonesia.
"Kami cari investasi langsung dari asing yang baru. Sampai 2024 mendatang, jumlahnya hampir US$30 miliar, belum termasuk baterai lithium," tutur dia.
Jika ditambah dengan investasi baterai lithium, maka jumlahnya bisa lebih dari US$30 miliar. Kebanyakan investor membangun pabriknya di Morowali dan Weda Bay.
[Gambas:Video CNN] (antara/bir)