Pertumbuhan Bisnis Gadai Emas Pegadaian Mandek

CNN Indonesia | Senin, 23/09/2019 18:46 WIB
Pertumbuhan Bisnis Gadai Emas Pegadaian Mandek Ilustrasi bisnis emas Pegadaian. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga emas yang kinclong beberapa waktu terakhir tidak mampu mengerek bisnis gadai PT Pegadaian (Persero). Buktinya, perusahaan pembiayaan BUMN ini hanya mencatat pertumbuhan bisnis gadai emas 1-2 persen sampai semester I 2019.

Pada kuartal I 2019, bisnis gadai emas tumbuh 2,6 persen menjadi Rp34,9 triliun. Lalu, melorot menjadi 1,1 persen ke posisi Rp34,5 triliun pada kuartal kedua tahun ini. Diperkirakan, pertumbuhan bisnis gadai emas perusahaan pada kuartal III nanti cuma sekitar 1,3 persen menjadi Rp35 triliun.

Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto mengatakan fluktuasi pertumbuhan bisnis gadai sudah tampak sejak 2015 lalu. Bisnis gadai perusahaan pelat merah ini cuma tumbuh paling tinggi 4,5 persen, yaitu pada kuartal III 2016. Bahkan, sempat jeblok minus 3,1 persen pada kuartal III 2015.

Oleh karenanya, ia melanjutkan Pegadaian tidak bisa lagi mengandalkan lini bisnis gadai. "Kalau pertumbuhan pinjaman tidak ada atau pertumbuhannya stagnan, lama-lama habis kami. Inilah yang menjadi konsentrasi kami saat ini," ujarnya, Senin (23/9).

Menurut Kuswiyoto, bisnis gadai menghadapi gempuran dari berbagai sisi, sehingga kinerjanya melandai. Salah satunya, kehadiran perusahaan gadai swasta membuat kompetisi pada industri gadai makin sengit.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat perusahaan gadai swasta terdaftar mencapai 68 perusahaan pada Juli 2019. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 perusahaan telah mengantongi izin resmi otoritas.

"Bisnis gadai ini bunganya lumayan, margin tebal, sehingga banyak orang yang tertarik bikin produk gadai," tutur dia.

Selain perusahaan gadai swasta, kemunculan produk substitusi perbankan, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) turut menghantam kinerja perseroan.

Selain itu, program bantuan sosial dari pemerintah, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Program Keluarga Harapan (PKH) turut mempengaruhi bisnis gadai perseroan.

Bantuan sosial tersebut menjadi sumber alternatif dana bagi masyarakat, sehingga mereka cenderung melihat gadai sebagai solusi dalam keadaan mendesak.

"Salah satu pesaing kami (industri gadai) yang sangat berpengaruh kepada kinerja adalah fintech peer to peer lending (P2P Lending)," imbuhnya.

Data perseroan menunjukkan total outstanding loan (pembiayaan) Pegadaian mencapai Rp45 triliun hingga kuartal III 2019 atau tumbuh 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Rinciannya, sebanyak Rp35 triliun atau setara 78 persen berasal dari lini bisnis gadai. Sedangkan sisanya Rp10 triliun setara 22 persen bersumber dari bisnis non gadai.

"Akhir tahun, kami target bisa tumbuh sampai dengan 15 persen. Lebih tinggi dari tahun lalu yang sebesar 12 persen," katanya.

Dengan pertumbuhan itu, maka perseroan menargetkan pembiayaan tahun ini mencapai Rp46,5 triliun. Tahun lalu, Pegadaian mencatatkan pembiayaan sebesar Rp40,5 triliun. Terdiri dari pembiayaan bisnis gadai sebesar Rp33,8 triliun dan non gadai sebesar Rp6,7 triliun.

Sementara itu, posisi rasio nonperforming financing (NPF) secara gross tercatat sebesar 1,7 persen pada kuartal III 2019.
[Gambas:Video CNN]
Alih Bisnis

Kuswiyoto menyatakan perseroan akan mengalihkan bisnis dengan meningkatkan bisnis non gadai. Tujuannya, untuk menyiasati mandeknya pertumbuhan bisnis gadai. Sebaliknya, komposisi bisnis gadai akan ditekan, namun tetap meningkat dari sisi volume.

Tahun 2015, porsi bisnis gadai tercatat sebesar 92 persen. Lalu, turun menjadi 91 persen pada 2016. Komposisi gadai berhasil ditekan menjadi 89 persen pada 2017 dan 83 persen pada 2018. Pada kuartal III 2019, porsinya sudah menjadi 78 persen.

"Kami punya rencana jangka pendek hingga panjang, bagaimana kami harus mencari produk substitusi lain yang bisa mengatrol kenaikan outstanding loan Pegadaian," katanya.

Upaya yang dilakukan perseroan, antara lain melalui diversifikasi produk dan meningkatkan inovasi digital. Untuk peningkatan inovasi digital, perseroan bakal mengerek belanja modal (capital expenditure) dan biaya operasional (operational expenditure) Teknologi Informasi (TI) sebesar Rp700 miliar tahun depan.

Jumlah itu naik dari anggaran tahun ini sebesar Rp500 miliar. "Jadi, memang kami tidak main-main di TI, tadi kami sampaikan kami harus menggunakan teknologi tertinggi. Jadi teknologi di Pegadaian itu selalu diperbaharui," terang Kuswiyoto.


(ulf/bir)