Ekonom Bulgaria Bakal Gantikan Lagarde jadi Bos IMF

CNN Indonesia | Rabu, 25/09/2019 13:18 WIB
Ekonom Bulgaria Bakal Gantikan Lagarde jadi Bos IMF Ilustrasi logo IMF. (REUTERS/Johannes P. Christo).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kristalina Georgieva, ekonom asal Bulgaria, disebut akan menduduki kursi direktur pelaksana (managing director) Dana Moneter Internasional (IMF). Georgieva menjadi orang pertama dari negara berkembang yang memimpin negara pemberi pinjaman tersebut.

Georgieva membangun reputasinya dari kepala eksekutif Bank Dunia sejak 2017 lalu. Ia sempat cuti untuk mengikuti bursa jabatan selama proses nominasi di IMF. Ia akan dikukuhkan esok hari.

Banyak suara yang mengingatkan bahwa Georgieva akan menghadapi banyak tantangan sebagai kepala IMF, yang terpilih di tengah meningkatnya perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China dan perlambatan ekonomi dunia.

Mengutip Reuters, Rabu (25/9), Georgieva disebut mendapatkan dukungan dari dewan eksekutif IMF, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Sumber dari dewan eksekutif IMF mengatakan Georgieva siap dengan pekerjaan barunya. "Ia telah sangat meyakinkan dewan bahwa dia adalah pemimpin yang dibutuhkan dan akan menjadi penasihat kuat untuk sistem multilateral," ujar sumber anonim Reuters.

Georgieva akan menggantikan Christine Lagarde yang akan bertolak ke bank sentral Eropa. Di negara asalnya di Bulgaria, Georgieva dipuja-puji. Bahkan surat kabar lokal menyebutnya sebagai keberhasilan diplomatik.

"Hanya 20 tahun berlalu, kini Bulgaria berada di antara negara-negara dengan program penyelamatan IMF. Nominasi mantan komisioner UE Bulgaria harus dilihat tidak hanya sebagai pengakuan pribadinya, tetapi juga sebagai keberhasilan diplomatik untuk Bulgaria," tulis surat kabar lokal.

Scott Morris, rekan senior Georgieva di Center for Global Development menilai Georgieva dengan cepat memberi dampak setelah berperan menjadi orang nomor dua di Bank Dunia pada awal 2017.

Menurut Morris, Georgieva berperan dalam mereformasi kebijakan pinjaman ke China dan negara-negara berkembang lainnya dengan memangkas pinjaman mereka dan melarikan lebih banyak pinjaman ke negara-negara yang lebih membutuhkan.

"Dia dapat menyatukan berbagai kelompok pemegang saham. Itulah kekuatannya. Yang kurang jelas adalah bagaimana ia akan menangani momen krisis," tutur Moris yang juga pernah menjabat di Departemen Keuangan AS.
[Gambas:Video CNN]


(Reuters/bir)