ADB Sebut Perang Dagang Ancam Pertumbuhan Ekonomi Asia

CNN Indonesia | Kamis, 26/09/2019 04:27 WIB
ADB Sebut Perang Dagang Ancam Pertumbuhan Ekonomi Asia Ilustrasi ADB. (AFP PHOTO / TED ALJIBE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan peningkatan ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China beberapa waktu belakangan ini telah memperburuk pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia. Mereka meramalkan masalah tersebut akan membuat pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia pada tahun ini lebih rendah dibandingkan yang pernah diproyeksikan sebelumnya.

ADB memproyeksikan negara berkembang di Asia hanya akan tumbuh di level 5,4 persen pada tahun ini dan 5,5 persen pada 2020 nanti. Proyeksi tersebut turun jika dibandingkan sebelumnya.

Pasalnya Juli lalu, ADB masih memproyeksikan ekonomi di Asia akan tumbuh 5,7 persen dan 5,6 persen. Di sisi lain, ekonomi China juga mereka ramalkan hanya akan tumbuh 6,2 persen tahun ini.


Pertumbuhan tersebut lebih lemah dari proyeksi Juli yang masih diramalkan bisa tumbuh 6,3 persen. Sementara itu untuk 2020, ADB memproyeksikan ekonomi Cina akan turun kembali ke level 6 persen.

Untuk Asia Tenggara, lembaga tersebut memperkirakan ekonomi kawasan tersebut akan tumbuh 4,5 persen pada tahun ini, lebih rendah dibanding proyeksi Juli yang 4,8 persen. Sementara itu untuk 2020 nanti, mereka memperkirakan ekonomi di Asia Tenggara akan bergerak lemah di level 4,7 persen atau lebih rendah dari proyeksi Juli lalu yang 4,9 persen.

"Konflik dagang antara China dengan AS kemungkinan akan awet sampai 2020, sementara itu di sisi lain kondisi ekonomi global juga lebih berat dari yang kita antisipasi sekarang ini," kata Kepala Ekonom ADB Yasuki Sawada seperti dikutip dari Reuters, Rabu (25/9).

Perselisihan antara dua ekonomi terbesar di dunia berlarut-larut selama lebih dari setahun. Perselisihan dilakukan dengan perang tarif.

Kedua belah pihak sebenarnya sudah berupaya bertemu untuk meredakan ketegangan. Tapi sampai saat ini upaya tersebut belum membuahkan hasil.

[Gambas:Video CNN] (reuters/agt)