Sebelumnya, pada perdagangan spot Rabu (25/9), rupiah berada di posisi Rp14.152 per dolar AS. Rupiah tercatat melemah 0,27 persen dibandingkan penutupan Selasa (24/9).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan mata uang Garuda sempat menguat ke level di bawah Rp14.100 per dolar AS. Bahkan, sambung dia, dua pekan lalu, rupiah berada di level Rp13.900-an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi global, sebagian besar anggota Dewan Perwakilan AS menyatakan mendukung proses penyelidikan untuk memakzulkan (impeach) Presiden Donald Trump. Trump diduga menyalahgunakan kewenangannya sebagai kepala negara untuk menghalangi bakal calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden, dengan meminta Ukraina menyelidiki dugaan korupsi sang anak, Hunter Biden, yang diduga dibuat-buat.
Perang dagang AS-China, lanjutnya, juga tak kunjung menemukan titik temu. Rencana dua negara berunding pada Oktober mendatang masih dipenuhi ketidakpastian.
Karenanya, berbagai negara di dunia memilih untuk melakukan pelonggaran kebijakan (easing policy), baik dari sisi fiskal maupun moneter. Pelonggaran kebijakan itu bertujuan untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, Destry juga menegaskan kondisi fundamental perekonomian Indonesia masih terbilang cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,06 persen pada semester I 2019.
[Gambas:Video CNN]
Kemudian, posisi cadangan devisa juga masih kuat yakni US$126 miliar pada Agustus 2019. Posisi ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, yakni US$125,9 miliar. Posisi cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Optimisme Destry juga dilandasi aliran modal asing yang masuk ke Indonesia. Secara tahunan (ytd), ia bilang aliran modal asing tercatat sebesar US$13,5 miliar setara Rp189 triliun. Hal itu menandakan investor asing masih melirik Indonesia sebagai negara tujuan investasi.
"Kami bisa memperkirakan likuiditas global itu masih akan ample (mencukupi). Nah, sebagai negara emerging market (negara berkembang) tentunya Indonesia menjadi salah satu tempat buat mereka masih menarik karena return (imbal hasil) kita juga masih menarik," tuturnya.