Ekonomi Global Kian Tertekan, Sri Mulyani Harap APBN Aman

CNN Indonesia | Kamis, 03/10/2019 16:37 WIB
Ekonomi Global Kian Tertekan, Sri Mulyani Harap APBN Aman Menteri Keuangan Sri Mulyani. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih bisa tercapai dengan baik hingga akhir tahun, meski tekanan global kian kentara menjelang akhir 2019.

Sesuai proyeksi pemerintah, pendapatan negara pada akhir tahun nanti diharapkan bisa mencapai Rp2.030 triliun atau 93,8 persen dari target APBN yakni Rp2.165,1 triliun.

Sementara itu, belanja negara diproyeksi mencapai Rp2.341 triliun atau 95,1 persen dari targetnya yakni Rp2.461 triliun. Dengan demikian, defisit APBN pada akhir tahun diperkirakan menjadi 1,93 persen dari PDB atau melebar dari target 1,84 persen.


"Pemerintah berkomitmen memperbaiki kebijakan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan global, dan sampai akhir tahun dengan instrumen fiskal kami bisa menjalankan APBN dengan baik," jelas Sri Mulyani, Kamis (3/10).
Ia mengatakan belakangan memang terjadi ketidakpastian yang disebabkan oleh kebijakan dan kondisi politik Amerika Serikat (AS). Dari segi kebijakan ekonomi, perang dagang antara AS dan China seolah belum menemui titik temu. Bahkan, AS berpeluang meningkatkan tarif impor atas produk Uni Eropa pada 18 Oktober mendatang.

Dari sisi politik, DPR AS berencana untuk memakzulkan Presiden AS Donald Trump. Situasi ini, lanjut dia, ternyata adalah sebuah peristiwa yang juga dianggap besar di AS.

"Tentu kalau di AS sendiri besar, maka itu akan mempengaruhi sentimen dan confidence ( keyakinan pelaku pasar) dunia. Dampaknya memang besar ke seluruh dunia," jelas Sri Mulyani.

Di tengah tekanan yang kian memanas, ia masih berharap Indonesia masih punya daya tahan yang tinggi terhadap tekanan global. Menurutnya, salah satu upaya tersebut adalah dengan memperbaiki iklim investasi.
"Dalam rangka itu, memperbaiki iklim investasi tetap diproses dan dilaksanakan. Fokus kami sekarang adalah memperbaiki daya tahan dan resiliency ekonomi," jelas Sri Mulyani.

Sebelumnya, tekanan dalam bentuk perlambatan ekonomi global sudah mempengaruhi kinerja APBN hingga Agustus 2019.

Berdasarkan data Kemenkeu, ekonomi yang lamban membuat penerimaan pajak hanya Rp801,16 triliun atau tumbuh tipis 0,21 persen dibanding taun sebelumnya. Padahal, pertumbuhan penerimaan pajak di tahun sebelumnya bisa mencapai 16,52 persen.

Alhasil, hingga Agustus 2019, penerimaan negara berada di angka Rp1.189,3 triliun atau tumbuh 3,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp1.152,9 triliun.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)