REKOMENDASI SAHAM

Cari Cuan dari Perusahaan Baru di Pasar Modal

CNN Indonesia | Senin, 14/10/2019 08:17 WIB
Cari Cuan dari Perusahaan Baru di Pasar Modal Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasar saham Indonesia banyak kedatangan tamu baru di tahun ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 40 perusahaan baru melantai hingga Rabu (9/10). Selain 40 emiten baru, BEI masih mengantongi 30 perusahaan dalam daftar entitas yang akan melakukan penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO).

Dengan demikian, potensi perusahaan yang melantai di bursa pada 2019 mencapai 70 perusahaan. Jika seluruh perusahaan tersebut merealisasikan rencana IPO, maka capaian IPO tahun ini bakal melebihi raihan IPO tahun lalu.

Pada 2018, perusahaan yang melakukan IPO mencapai 53 entitas atau paling banyak sejak 2010. Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas menuturkan peningkatan jumlah perusahaan yang melepas saham ke publik mencerminkan jika badan usaha di Indonesia yang selama ini cenderung mencari modal lewat perbankan sudah melek terhadap sumber pendanaan melalui pasar modal.


"Begitu juga masyarakat sudah mulai melek buat investasi di pasar modal," katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/10).

Namun demikian, ia menyoroti perusahaan yang melakukan IPO saat ini masih didominasi perusahaan kecil hingga menengah. Ini tercermin dari target raihan dana perusahaan yang mayoritas berada di bawah Rp1 triliun.

Menurut dia, tren IPO perusahaan dengan skala kecil tahun ini memang wajar. Pasalnya, kondisi ekonomi baik global maupun domestik tak berpihak kepada pasar. Kondisi itu menyebabkan perusahaan hanya mematok target raihan dana lebih kecil dengan tujuan dapat maksimal terserap di pasar.

"Kalau untuk emiten dengan target emisi yang besar kemungkinan besar risiko tidak terserap tinggi," imbuhnya.

Meski perusahaan kecil, namun bukan berarti pelaku pasar tidak bisa meraup untung dari perusahaan IPO. Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani menuturkan perusahaan baru berpotensi mengantongi kenaikan saham yang lebih tinggi ketimbang perusahaan yang sudah tercatat.

Dengan catatan, perusahaan tersebut mendapat sambutan baik di pasar. Salah satu contoh perusahaan baru yang berhasil mencatat kinerja cemerlang adalah PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY).

Saham perusahaan penyedia jasa teknologi informasi itu berhasil meroket sebesar 124,16 persen dalam 3 bulan sejak pencatatan perdana pada 8 Juli 2019 silam. Pada pencatatan perdana, saham Envy Technologies Indonesia dipatok di level Rp370 per saham.

Pada penutupan perdagangan Jumat (11/10) saham Envy Technologies Indonesia telah menembus Rp1.995 per saham. Artinya, investor yang membeli saham Envy Technologies Indonesia telah mengantongi imbal hasil sebesar Rp162.500 untuk tiap lot sejak pencatatan perdana.

Kinerja saham Envy Technologies Indonesia berhasil melampaui saham sektor jasa teknologi lainnya, seperti PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) yang naik tipis 0,65 persen dalam 3 bulan, PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) naik 5,43 persen, dan PT Astra Graphia Tbk (ASGR) yang justru melemah 16,3 persen.

"Kalau kinerja bagus dan direspons baik oleh pasar tumbuhnya bisa lebih cepat daripada perusahaan yang sudah listing," ujar Hendriko.

Guna memastikan perusahaan tersebut direspons baik oleh pasar, maka investor harus mencermati fundamental calon emiten baru. Ini dapat dilakukan dengan cara menelaah prospektus perusahaan.

Prospektus adalah dokumen yang berisi profil dan kinerja perusahaan untuk memberikan gambaran mengenai saham yang ditawarkan kepada publik. Untuk mendapatkan prospektus, investor dapat menghadiri acara public expose yang diselenggarakan perusahaan sebagai rangkaian dari IPO.

Beberapa hal yang perlu dipahami dari prospektus tersebut adalah kinerja keuangan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Sebaiknya, investor membandingkan kinerja keuangan perusahaan sehingga mendapatkan gambaran dari potensi kinerja perusahaan ke depan.

Ia menyarankan investor menghindari perusahaan yang kinerjanya melorot atau yang merugi. Meskipun, pihak bursa tidak melarang perusahaan merugi mencatatkan sahamnya di pasar modal.

"Analisa dari laporan keuangan perusahaan, menguntungkan tidak. Dilihat juga semua rasio dan pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan," imbuhnya.

Tak hanya dari sisi kinerja, investor juga sebaiknya mencermati penggunaan dana IPO. Jika tujuannya untuk mengembangkan bisnis, maka perusahaan tersebut berpeluang meningkatkan kinerjanya ke depan.

Sebaliknya, ada beberapa perusahaan yang menggunakan dana IPO untuk melunasi utang perseroan. Dalam hal ini, investor sebaiknya mempertimbangkan ulang sebelum mengoleksi saham perusahaan tersebut.

Secara umum, investor hendaknya menempatkan modal pada perusahaan yang mampu menjaga tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG).

Setelah yakin dengan profil dan kinerja perusahaan, maka investor bisa mulai membeli saham dari perusahaan sekuritas yang ditunjuk sebagai penjamin emisi efek (underwriter). Underwriter adalah pihak yang melakukan penawaran umum kepada publik tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek yang tidak terjual.

Dalam hal ini, perusahaan bisa menunjuk lebih dari satu perusahaan sekuritas sebagai underwriter. "Nasabah yang tertarik bisa mengajukan pembelian saham IPO dengan mengisi formulir book building," katanya.

Pengisian formulir book building atau formulir pemesanan pembelian saham (FPPS) dapat dilakukan selama periode book building. Pada periode ini, investor baik ritel maupun institusi dapat mulai memesan saham emiten pada rentang harga yang diumumkan oleh underwriter.

Dalam periode ini pula, underwriter mulai proses pembentukan harga berdasarkan minat beli investor.

Apabila saham perusahaan mendapatkan respons baik dari investor, maka terjadi oversubscribe. Artinya jumlah saham yang dipesan investor lebih banyak dari jumlah saham yang ditawarkan perusahaan. Sebaliknya, jika respons investor tidak bagus, maka terjadi undersubscribe.

Selanjutnya, proses IPO memasuki tahap penjatahan. Dalam tahapan ini, underwriter telah menentukan harga penawaran umum perdana. Nasabah yang mendapat jatah saham kemudian menyelesaikan transaksi pemesanan saham untuk mendapatkan bukti pembayaran saham. "Pada saat hari pencatatan perdana, saham akan masuk ke portofolio nasabah," katanya.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan investor harus menengok kekuatan modal sebelum membeli saham perusahaan saat IPO. Namun demikian, ia menyarankan investor membeli saham secara bertahap jika tidak terlalu paham soal kinerja perusahaan.
[Gambas:Video CNN]
"Kalau tahu persis bisnisnya bisa langsung beli banyak, tetapi kalau tidak tahu bisnisnya sebaiknya beli secara bertahap sembari melihat pergerakan harga saham," katanya.

Setelah seluruh proses selesai dan investor resmi memegang saham perusahaan, para analis menyarankan investor tetap memperhatikan pergerakan saham tersebut.
(ulf/agt)