Bandara AP II Sediakan Pos Isi Ulang Baterai Mobil Listrik

CNN Indonesia | Kamis, 17/10/2019 12:06 WIB
Bandara AP II Sediakan Pos Isi Ulang Baterai Mobil Listrik Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II akan menyediakan infrastruktur pengisian baterai mobil listrik atau Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) pada bandara yang dikelolanya.

Hal itu tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) antara perseroan dengan PT PLN (Persero) tentang Kerja Sama Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai pada Rabu (16/10) kemarin.

Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin menyatakan penandatanganan tersebut menegaskan dukungan perseroan terhadap kendaraan listrik. Sebagai proyek pertama (pilot project), SPKLU disediakan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. 


"Sebagai bandara terbesar dan tersibuk di Indonesia dengan jumlah penumpang setiap hari sekitar 200 ribu orang dan pekerja mencapai 50 ribu orang, kami berharap Soekarno-Hatta yang menjadi pilot project pada program pengembangan kendaraan listrik ini akan mampu menjadi contoh bagi bandara-bandara lain dan infrastruktur pelayanan publik lainnya," ujarnya, seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (17/10).

Selanjutnya, perusahaan dan PLN segera membahas lebih detail terkait rencana kerja sama ini di antaranya pemetaan kebutuhan kendaraan bermotor listrik serta kebutuhan tempat pengisian baterai mobil listrik sesuai dengan lokasi bandara.

"Yang jelas, saat ini di Soekarno-Hatta sudah dioperasikan sejumlah kendaraan bermotor listrik untuk melayani penumpang serta mendukung operasional bandara," ujarnya,

Saat ini, kendaraan bermotor listrik yang sudah dioperasikan di Bandara Soekarno-Hatta adalah taksi listrik Tesla dan BYD milik Blue Bird. Kendaraan listrik lainnya di bandara terbesar di Indonesia ini adalah Skytrain, Segway, skuter listrik, baggage towing tractor, dan bus listrik untuk di dalam kawasan bandara. 

Lebih lanjut, pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani mengatakan pembahasan detail dengan seluruh pihak penandatanganan MoU akan dilakukan maksimal dalam waktu 1 bulan.

"Jangan sampai konsumen sudah membeli mobil listrik tapi kesulitan untuk charging (isi ulang baterai)," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)