Genjot Manufaktur, Jokowi Diimbau Tak Lupa Produksi Migas

CNN Indonesia | Senin, 21/10/2019 17:43 WIB
Genjot Manufaktur, Jokowi Diimbau Tak Lupa Produksi Migas Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) diimbau meningkatkan eksplorasi minyak dan gas (Migas) jika ingin berhasil bertransformasi dan meningkatkan sektor manufaktur nasional.

Praktisi Minyak dan Gas (Migas) Tumbur Parlindungan mengatakan selama ini pemerintah ingin melakukan transformasi ekonomi dari semula bergantung pada sumber daya alam menjadi peningkatan daya saing manufaktur. Akan tetapi, pengembangan sektor manufaktur butuh banyak kesiapan, termasuk dari sisi energi.

Menurut Tumbur, sektor Migas saat ini membutuhkan pengembangan eksplorasi di tengah produksi migas yang makin merosot lantaran sumur-sumur menua. Terlebih, posisi Migas tak bisa tergantikan dengan sumber energi lain, termasuk Energi Baru Terbarukan (EBT).


"Jadi tolong benerin energi dulu, kalau tidak yang lain tak akan jalan dan lebih maju. Energi itu number one (nomor satu), darahnya itu pembangunan energi," katanya, Senin (21/10).
Sayangnya, sambung dia, investasi pada sektor hulu migas menemui banyak kendala. Pertama, investor menilai investasi migas cenderung dipenuhi ketidakpastian, padahal investasi di sektor ini merupakan investasi jangka panjang hingga puluhan tahun. Dengan demikian, perubahan kebijakan di tengah masa investasi akan merugikan investor.

Kedua, investor menilai pemerintah Indonesia terlalu banyak ikut campur soal teknis investasi. Hal tersebut justru dinilai menghambat pengembangan investasi. Dengan demikian, tak heran banyak investor asing mengalihkan modalnya pada sektor energi di negara lain.

"Kenapa orang banyak investasi di Vietnam, karena sektor energinya lebih bagus daripada kita. Bukan hanya regulasi energinya, Vietnam juga dilihat lebih bagus untuk jangka panjang," tuturnya.

Melengkapi pernyataan Tumbur, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Barly Martawardayan mengungkapkan lifting migas turun kurang lebih 30 persen sejak 2013.
Pada 2013, realisasi lifting minyak tercatat sebesar 825 ribu barel per hari dan gas 1,25 juta barel per hari. Namun hingga 2018 kemarin, lifting minyak hanya sebesar 778 ribu barel per hari dan gas 1,1 juta barel per hari.

Turunnya lifting migas membuat defisit migas dalam negeri makin lebar. Untuk konsumsi minyak saja, ia mencatat jumlahnya mencapai 1,5 juta barel per hari. Jumlah ini terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan permintaan kendaraan.

"Dampak dari energi ini sangat besar tidak hanya produksi tapi juga stabilitas rupiah, karena sebagian besar defisit migas karena hanya setengah yang hanya bisa diproduksi sisanya kita impor dan beli dalam dolar AS," ucapnya.

Di sisi lain, pertumbuhan investasi migas terus merosot. Tak ayal, Indonesia tak kunjung menemukan sumur baru. Pada 2013, investasi hulu migas tercatat mencapai US$20,4 miliar. Namun, pada 2018 jumlah investasi yang masuk hanya US$12 miliar.

"Ini disebabkan investasi migas kita tidak menarik," katanya.

Ia mengamini ucapan Tumbur, investasi di sektor migas tidak menarik lantaran kurangnya jaminan kepastian investasi sektor hulu migas. Ia juga mewanti-wanti, jika pemerintah serius mengembangkan sektor manufaktur, maka perlu memperkuat sektor energi.

Jika tidak, ia khawatir kenaikan permintaan energi untuk sektor manufaktur justru menambah defisit. Alasannya, Indonesia harus menambah impor minyak guna memenuhi permintaan sektor manufaktur jika pemerintah serius menggenjot sektor manufaktur.

"Jangan sampai permintaan meningkat sedangkan suplai energi justru menurun, sehingga melemahkan rupiah dan ekonomi makro," katanya.
[Gambas:Video CNN] (ulf/lav)