Sofyan Djalil soal Wamen ATR Baru: Kami Banyak Kesamaan

CNN Indonesia | Jumat, 25/10/2019 19:41 WIB
Sofyan Djalil soal Wamen ATR Baru: Kami Banyak Kesamaan Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR/BPN) Sofyan Djalil mengapresiasi kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memilih Politikus dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Surya Tjandra untuk membantunya sebagai wakil menteri ATR.

"Kami banyak kesamaan. Rasanya bisa cocok (dengan wakil menteri), saya sudah lihat CV (Curriculum Vitae)-nya, hampir sama dengan CV saya. Kebetulan sama-sama UI (Universitas Indonesia), bedanya saya senior, dia junior," ujar Sofyan kepada awak media di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (25/10).

Terkait program ke depan, Sofyan mengatakan Surya akan membantunya untuk menyelesaikan persoalan konflik pertanahan. Menurut dia, Presiden Jokowi sangat memperhatikan persoalan reforma agraria.


"Kita tahu bahwa tingkat penguasaan tanah, gini indeks ini sangat jomplang," ungkap Sofyan.

Tugas lain termasuk urusan pendaftaran tanah yang ditargetkan rampung sampai 2025. Selain itu, terdapat pula target digitalisasi layanan pertanahan. Saat ini, sudah ada empat layanan Kementerian ATR/BPN yang sudah menggunakan sistem digital

Wakil Menteri ATR/BPN Surya Tjandra mengaku senang diminta Presiden Jokowi untuk membantu Sofyan mengatasi persoalan agraria dan tata ruang.

"Beliau (Sofyan Djalil) ini memang sudah favorit saya dari dulu, senang, bangga. Mohon diajarkan Pak Sofyan, saya mau bantuin Bapak, semoga menjadi lebih baik," ujar Surya, Jumat (25/10).

Politikus PSI itu diketahui melalui jalan panjang sebelum duduk di kursi Wamen ATR. Ia dibesarkan dari keluarga tak mampu. Orang tua Surya adalah seorang pedagang ayam potong di Pasar Jatinegara, Jakarta. Keluarganya tinggal di rumah kontrakan dan kerap berpindah-pindah di sekitar Pasar Jatinegara.
[Gambas:Video CNN]
Meski hidup dalam keterbatasan, kondisi ini tidak menyurutkan tekad Surya untuk meraih pendidikan tinggi. Ia juga mendapat dukungan dari orang tuanya untuk tekun dalam mengapai cita-cita.

Berkat tekad dan dukungan orang tua, ia berhasil diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Usai merampungkan pendidikan di UI, dan beasiswa untuk program master di bidang hukum pada Universitas Warwick, Inggris, dan program doktor Universitas Leiden, Belanda.

Sepulangnya ke Indonesia, ia memilih bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menyediakan bantuan hukum bagi rakyat miskin dan buta hukum.

Dengan latar belakangnya itu, Surya mempunyai sensitivitas tinggi terhadap isu kemiskinan dan ketidakadilan. Selama bekerja di LBH, ia mengembangkan keterampilannya dalam bidang hukum.
(fra/lav)