Ibu Kota Baru Perlu Tambahan Pasokan Listrik 1.555 MW

CNN Indonesia | Senin, 28/10/2019 14:43 WIB
Ibu Kota Baru Perlu Tambahan Pasokan Listrik 1.555 MW Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kebutuhan listrik ibu kota baru di Penajam Paser Utara-Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) akan mencapai 1.196 MegaWatt (MW). Artinya, tambahan kapasitas pembangkit listrik yang dibutuhkan untuk menyuplai listrik wilayah tersebut sekitar 1.555 MW, termasuk margin cadangan sebesar 30 persen.

"Selain itu, untuk menjaga keandalan pasokan listrik di ibu kota baru sebaiknya tidak hanya mengandalkan pasokan dari sistem interkoneksi namun diperlukan tambahan pembangkit baru yang berlokasi dekat atau berada di Provinsi Kalimantan Timur," ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana dalam keterangan resmi, dikutip Senin (28/10).

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2019-2028, tambahan pembangkit sampai dengan 2024 di Kaltim hanya 691 MW sehingga diperlukan tambahan pembangkit baru sekitar 864 MW di wilayah tersebut.


"Perlu percepatan pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan (pembangkit, transmisi dan distribusi tenaga listrik) untuk mendukung keandalan sistem kelistrikan ibu kota baru, sehingga RUPTL PLN 2019-2028 perlu penyesuaian," tuturnya.

Menurut Rida, spesifikasi pengembangan kelistrikan ibu kota baru yang ideal menurut Rida adalah zero down time yang memerlukan minimal tiga lapisan sumber pasokan tenaga listrik.

Kemudian, circular configuration grid & smart grid termasuk dilengkapi Energy Storage System (ESS); jaringan tegangan tinggi, menengah, dan rendah (TT, TM, & TR) menggunakan kabel bawah tanah; pembangkit energi baru terbarukan (EBT) untuk menggantikan dominasi PLTU dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo telah mengumumkan hasil kajian pemerintah mengenai lokasi ibu kota baru pada 26 Agustus 2019 lalu.

Hasil kajian tersebut menyimpulkan lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara, provinsi Kalimantan Timur.

Saat ini, kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kaltim dipasok oleh Sistem Interkoneksi Kalimantan yang merupakan interkoneksi antara subsistem Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dan subsistem Mahakam di Kaltim.

Kondisi kelistrikan di Sistem Interkoneksi Kalimantan adalah daya mampu netto 1.569,1 MW dengan beban puncak mencapai 1.094,9 MW sehingga tersisa cadangan sebesar 474,2 MW (30 persen).

Perlu Juli 2019, rasio elektrifikasi (RE) Kaltim adalah 99,99 persen. Adapun rasio elektrifikasi di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara adalah 99,99 persen.

Selanjutnya, beban listrik di Kabupaten Penajaman Paser Utara baru mencapai 15,89 MVA yang dipasok dari 1 Gardu Induk (GI), yaitu GI Petung dengan kapasitas GI sebesar 90 MVA.

Beban listrik di Kabupaten Kutai Kartanegara baru mencapai 117,54 MVA yang dipasok dari 3 GI, yaitu GI Karang Joang, GI Manggarsari, dan GI Senipah dengan total kapasitas GI sebesar 290 MVA.
[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)