Terganjal India, KTT Asean Tunggu Finalisasi Perundingan RCEP

CNN Indonesia | Minggu, 03/11/2019 14:11 WIB
KTT Asean menunggu finalisasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Pasalnya, hingga saat ini India masih ragu untuk bergabung dalam pakta itu. Foto: (AP Photo/Sakchai Lalit)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para kepala negara Asia Tenggara membahas langkah strategis terkait Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) untuk membantu masalah perlambatan ekonomi global yang terjadi sejak perang dagang Amerika Serikat dan China dalam KTT Asean di Thailand.

Dilansir dari AFP, asosiasi yang berisi 10 negara Asia Tenggara ini berharap pakta RCEP yang didukung China ini bisa segera finalisasi. Pasalnya, pakta ini menyatukan setengah dari populasi dunia dan sekitar 40 persen dari total perdagangan.

Selama tujuh tahun, asosiasi telah memperjuangkan pakta yang mengikut sertakan India hingga Selandia Baru. Salah satu delegasi perdagangan dari Filipina mengatakan kesepakatan pakta ini tampaknya tidak mungkin terjadi sekarang. Dia memperkirakan kesepakatan baru bisa dilakukan tahun depan.


Perdagangan AS mulai 'keberatan' dengan beban China. IMF telah memperingatkan cekcok dua negara dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global ke laju terendah dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump telah berulang kali memperingatkan intervensi lebih lanjut untuk melindungi bisnis AS. Beberapa negara Asia sedang menunggu apakah AS akan memasukkan mereka dalam daftar 'manipulator mata uang'.

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad memperingatkan bahwa regional dapat membalas dengan hukuman pada perdagangan. Tetapi dia tidak memperinci secara spesifik.

"Kami akan melakukan apa yang dilakukan Trump," katanya dalam forum bisnis menjelang pembukaan KTT.

Mahathir bahkan menyebut pemimpin AS bukan orang baik.

"Jika Anda pergi sendirian, Anda akan diganggu. Kami tidak ingin perang dagang. Tetapi kketika mereka melakukan hal-hal yang tidak baik pada kami, kami tidak harus baik kepada mereka," tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Ramon Lopez berharap KTT ini akan membawa laporan yang positif terkait RCEP. Walaupun, penandatangan perjanjian akan terjadi tahun depan. Perdana Menteri Narendra Modi pun dinilai menjadi 'penghalang' RCEP disepakati.

Pasalnya, India takut membuka industri utama mereka seperti logam, tekstil, dan susu untuk impor China dengan harga yang lebih murah.

'Kekerasan' hati India ini telah membuat kesepakatan asosiasi 10 negara Asia Tenggara bersama Jepang, China, Selandia Baru, Australia dan India menjadi meragukan.

"Kami ingin mereka (India) masuk. Kami ingin mereka, Mereka adalah ekonomi besar," kata Lopez kepada wartawan.

Perdana Menteri China Li Keqiang akan menghadiri pertemuan itu karena ketegangan yang membara di Laut Cina Selatan juga menjadi salah satu agenda pembahasan.

China mendukung RCEP sebagai cara untuk menegaskan dominasi perdagangannya di Asia setelah Donald Trump menarik Amerika Serikat dari Trans-Pacific Partnership (TPP) pada 2017.

[Gambas:Video CNN] (AFP/age)