Dilansir dari AFP, asosiasi yang berisi 10 negara Asia Tenggara ini berharap pakta RCEP yang didukung China ini bisa segera finalisasi. Pasalnya, pakta ini menyatukan setengah dari populasi dunia dan sekitar 40 persen dari total perdagangan.
Selama tujuh tahun, asosiasi telah memperjuangkan pakta yang mengikut sertakan India hingga Selandia Baru. Salah satu delegasi perdagangan dari Filipina mengatakan kesepakatan pakta ini tampaknya tidak mungkin terjadi sekarang. Dia memperkirakan kesepakatan baru bisa dilakukan tahun depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan melakukan apa yang dilakukan Trump," katanya dalam forum bisnis menjelang pembukaan KTT.
Mahathir bahkan menyebut pemimpin AS bukan orang baik.
"Jika Anda pergi sendirian, Anda akan diganggu. Kami tidak ingin perang dagang. Tetapi kketika mereka melakukan hal-hal yang tidak baik pada kami, kami tidak harus baik kepada mereka," tambahnya.
Pasalnya, India takut membuka industri utama mereka seperti logam, tekstil, dan susu untuk impor China dengan harga yang lebih murah.
'Kekerasan' hati India ini telah membuat kesepakatan asosiasi 10 negara Asia Tenggara bersama Jepang, China, Selandia Baru, Australia dan India menjadi meragukan.
Perdana Menteri China Li Keqiang akan menghadiri pertemuan itu karena ketegangan yang membara di Laut Cina Selatan juga menjadi salah satu agenda pembahasan.
China mendukung RCEP sebagai cara untuk menegaskan dominasi perdagangannya di Asia setelah Donald Trump menarik Amerika Serikat dari Trans-Pacific Partnership (TPP) pada 2017.
[Gambas:Video CNN] (afp/age)