Riset HSBC: Pengusaha RI Lihat Proteksionisme Bawa Untung

CNN Indonesia | Rabu, 06/11/2019 14:40 WIB
Riset HSBC: Pengusaha RI Lihat Proteksionisme Bawa Untung Ilustrasi Jakarta. (CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Riset HSBC berjudul 'Navigator: Now, next and how' mengungkap perusahaan Indonesia melihat proteksionisme yang semakin marak justru memberi keuntungan. Kalangan pengusaha pun mulai fokus pada kanal digital, pemangkasan biaya, mengubah portofolio dan mengambil bahan baku dari pemasok lokal.

Riset ini pun mengungkap 85 persen perusahaan Indonesia melihat proteksionisme sedang marak dengan angka pertumbuhan yang cukup signifikan dari 55 persen pada 2017 menjadi 71 persen pada 2018.

Riset tersebut memberi saran agar perusahaan-perusahaan dapat fokus pada penjualan online sebagai langkah untuk menangkal proteksionisme. Banyaknya perusahaan yang bergerak menuju era teknologi digital dan menciptakan ekosistem akibat pergeseran yang terjadi pada tingkat regional dan domestik.


"Menurut Navigator, 40 persen perusahaan melihat metode ini (penjualan online) sebagai cara untuk menangkal proteksionisme dan 34 persen menggunakannya sebagai strategi untuk mengurangi risiko geopolitik," tulis riset tersebut.

Selain itu, riset mengatakan pentingnya perusahaan Indonesia untuk mengikuti perkembangan zaman dengan menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Perusahaan dinilai harus fokus pada keuangan, berinvestasi lebih banyak pada sektor teknologi dan mengembangkan kerangka kerja berkelanjutan. Riset juga menyarankan sektor manufaktur Indonesia untuk fokus pada rantai pasokan yang dapat dilacak (traceable supply chain).

"Iklim politik global saat ini juga mengharuskan perusahaan menilai kekuatan dan keandalan rantai pasokan mereka. Mengamankan pasokan bahan baku dan energi adalah kuncinya," ujar Country Head Global Trade and Receivable Finance HSBC Indonesia Dandy Pandi.

Laporan Navigator HSBC merupakan hasil sebuah survei global yang mengukur sentimen bisnis dan ekspektasi terhadap aktivitas perdagangan dan pertumbuhan bisnis dari 9.131 pembuat keputusan di 35 pasar. Sebanyak 3.252 perusahaan di 12 ekonomi Asia berpartisipasi dalam survei.
[Gambas:Video CNN]
(hns/age)