Valuasi Saham Saudi Aramco Dibanderol US$1,7 Triliun

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Minggu, 17/11/2019 16:27 WIB
Valuasi Saham Saudi Aramco Dibanderol US$1,7 Triliun Ilustrasi kilang minyak Saudi Aramco. (AFP/Fayez Nureldine).
Jakarta, CNN Indonesia -- Valuasi saham Saudi Aramco, perusahaan minyak negara Arab Saudi, dibanderol US$1,71 triliun jelang penawaran saham perdana (IPO). Nilai tersebut meleset dari target awal yang dibidik Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebesar US$2 triliun.

Dilansir AFP, Minggu (17/11), Saudi Aramco menawarkan melepas 1,5 persen sahamnya senilai US$24 miliar. "Penawaran dasar sebesar 1,5 persen dari total saham perusahaan," tulis keterangan resmi perusahaan yang mematok harga 30-32 riyal Saudi per saham.

Awalnya, Saudi Aramco diperkirakan menjual 5 persen saham di dua bursa, terdiri dari 2 persen di bursa dalam negeri, dan 3 persen di bursa luar negeri. Namun, perusahaan menyebut saat ini tidak ada rencana untuk melakukan penjualan saham internasional.

Ini sekaligus mengartikan bahwa perusahaan menunda rencana penjualan di pasar global untuk sementara waktu. Aksi korporasi Saudi Aramco melantai di bursa saham Riyadh ini pun sempat tertunda beberapa tahun.

Namun demikian, IPO Saudi Aramco masih menyaingi listing terbesar di dunia, yaitu perusahaan e-commerce Alibaba yang meraup US$25 miliar pada 2014 lalu.

S&P Global Rating, lembaga pemeringkat internasional menuturkan aksi korporasi Saudi Aramco tersebut akan memperkuat posisi keuangannya. "Dana yang terkumpul dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Arab Saudi," terang S&P.

Sebelumnya, perusahaan riset investasi Bernstein memperkirakan valuasi perusahaan diperkirakan berkisar US$1,2 triliun hingga US$1,5 triliun.

Sebagai informasi, Aramco merupakan perusahaan paling menguntungkan di dunia. Perusahaan memasok 10 persen dari kebutuhan minyak global.

Tahun lalu, Aramco meraup laba bersih mencapai US$111,1 miliar. Selama periode Januari-September 2019, perusahaan telah meraup US$68,2 miliar atau merosot 18 persen dari periode yang sama tahun lalu.
[Gambas:Video CNN]


(bir)