Daya Beli China Bertenaga, Perang Dagang Tak Berdampak

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Selasa, 19/11/2019 16:52 WIB
Daya Beli China Bertenaga, Perang Dagang Tak Berdampak Ilustrasi kegiatan ekonomi China. (AFP/Johannes Eisele).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perlambatan ekonomi China disebut-sebut akan menjadi berkah bagi ekonomi Amerika Serikat (AS). Sejumlah ekonom bahkan melihat AS bakal diuntungkan dalam negosiasi perundingan perang dagang karena perlambatan ekonomi China yang tak terhindarkan.

Kenyataannya, salah. Ekonomi China masih menggeliat. Hal itu terbukti dari daya beli masyarakatnya yang kuat, terlihat dari belanja ritel konsumen di perusahaan e-commerce pada perhelatan 11.11 pada 11 November lalu.

Di perdagangan online, Alibaba dan saingannya, JD.com mencatat rekor penjualan pada hari belanja online. Tak terkecuali Luckin Coffe, pesaing Starbucks di China yang juga membukukan pertumbuhan penjualan.

Perusahaan e-commerce China lainnya, Trip.com dan Pinduoduo yang ikut menawarkan diskon pada gelaran 11.11 juga mencatat penjualan yang meroket.

Aaron Clark, manajer portofolio di GW&K Investment Management mengatakan kekhawatiran perang dagang tampaknya tidak mengganggu investor.

Buktinya, saham Alibaba berhasil melesat 35 persen atau dua kali lipat dari keuntungan saham Amazon. Kemudian, saham JD.com juga melonjak 60 persen, sedang Pinduoduo mencatat kenaikan saham 85 persen.

"Konsumen China masih bertenaga. Jumlahnya mengejutkan," tegas Clark.

Ia melanjutkan fakta bahwa konsumen China terus berbelanja dinilai sebagai ekspresi kepercayaan terhadap ekonomi negara itu. Padahal, peningkatan tarif dan eskalasi perang dagang dengan AS memberi tekanan, terutama pada manufaktur China.

"Tetapi, hal itu tidak membuat kelas menengahnya, yang semakin besar jumlahnya untuk, menahan belanja gadget dan produk konsumen lainnya," imbuh Clark.

Kristina Hooper, Kepala Strategi Pasar Global Invesco menuturkan tidak ada tekanan pada Presiden China Xi Jinping dalam perundingan perdagangan dengan AS, selama konsumen menunjukkan daya beli yang kuat.

"Data ini menunjukkan bahwa, meski ekonomi China tetap di bawah tekanan, China dapat dengan mudah mentolerir situasi dan mungkin tidak dipaksa ke dalam konsesi (perundingan perang dagang) yang tidak nyaman," katanya.

Erik Zipf, Kepala Ekuitas Pasar DuPont Capital, juga berpendapat sama. "Saya tidak akan menganggap China berada dalam kondisi rapuh, meski ada perlambatan di sisi industri," terang dia.
[Gambas:Video CNN]
Angka solid dari pengecer China, kata Brendan Ahern, Kepala Investasi KraneShares, menunjukkan bahwa ekonomi China tidak jatuh dari tebing seperti yang dilaporkan banyak media setiap hari.

Bahkan, ia melanjutkan merek ritel besar seperti Apple dan Nike masih baik-baik saja di China. Ini membuktikan bahwa konsumen China tidak kehilangan selera terhadap produk-produk Amerika, meskipun kedua negara mengibarkan perang dagang. "Hari single 11.11 jelas sukses besar," tulis Ahern.


(bir)