Kementerian BUMN: Investasi Jiwasraya Banyak Saham Gorengan

CNN Indonesia | Kamis, 21/11/2019 15:39 WIB
Kementerian BUMN: Investasi Jiwasraya Banyak Saham Gorengan Kementerian BUMN mensinyalir investasi Asuransi Jiwasraya banyak ditaruh di saham-saham gorengan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian BUMN mensinyalir investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) banyak ditaruh di saham-saham gorengan. Hal ini yang menjadi satu dari sekian masalah gagal bayar klaim Asuransi Jiwasraya.

Hal lain, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan imbal hasil investasi yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan produk asuransi sejenis.

"Tapi, ini (masalah imbal hasil investasi) kan agak sulit karena produk ada persetujuan. Kalau investasi, kami minta kejaksaan untuk teliti apa ada kongkalikong. Saya kan main saham juga, kan tau itu (saham) gorengan," ujarnya, Kamis (21/11).

Selain itu, Kementerian BUMN, lanjut Arya, juga akan menagih laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk dijadikan acuan bagi kejaksaan. Sekadar mengingatkan, selain BPK, Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) juga diminta oleh eks menteri BUMN Rini Soemarno untuk melakukan audit investigasi.

Pada pertengahan Mei 2019, Kepala BPKP Ardan Adiperdana mengklaim telah menyerahkan hasil audit investigasi tersebut kepada Kementerian BUMN. Namun, ia enggan memaparkan hasil investigasinya terhadap perusahaan asuransi jiwa pelat merah tersebut.

Sekadar mengingatkan, perseroan mengaku total pembayaran klaim yang tertunda sebesar Rp802 miliar per Oktober 2018. Kebanyakan klaim tertunda berasal dari produk asuransi berbasis investasi yang ditawarkan lewat kemitraan dengan bank (bancassurance).

Tunggakan klaim tersebut berbeda dengan yang disampaikan perkumpulan nasabah korban gagal bayar Asuransi Jiwasraya. Lewat perwakilan nasabah, Lee Kang Hyun mengatakan bahwa total klaim produk bancassurance Jiwasraya mencapai Rp16,52 triliun.

Jumlah itu berasal dari 17.721 polis yang tersebar di 7 bank mitra bancassurance Jiwasraya. Antara lain, BRI Rp3,89 triliun, Standard Chartered Bank Indonesia Rp3,26 triliun.
[Gambas:Video CNN]


(ara/bir)