Perundingan Dagang Tak Jelas, Minyak Dunia Tertekan

CNN Indonesia | Senin, 25/11/2019 07:47 WIB
Perundingan Dagang Tak Jelas, Minyak Dunia Tertekan Minyak melemah tertekan ketidakjelasan perundingan dagang AS-China. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia berbalik arah melemah pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (22/11). Pasar kembali khawatir dengan kelanjutan perundingan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Mengutip Antara, harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,58 ke level US$63,39 per barel. Kemudian, pelemahan harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) terlihat lebih dalam sebesar US$0,81 menjadi US$57,77 per barel.

Sebelumnya, harga minyak dunia sempat bertengger di zona hijau dalam dua hari berturut-turut, yakni Rabu (20/11) dan Kamis (21/11) kemarin. Tak tanggung-tanggung, kenaikannya bahkan mencapai lebih dari dua persen.


Rinciannya, harga minyak Brent pada Rabu tercatat naik 2,5 persen ke level US$62,4 per barel dan Kamis kembali meningkat 2,5 persen menjadi US$63,97 per barel.

Sementara, harga minyak WTI pada Rabu menguat hingga 3,4 persen menjadi US$57,11 per barel. Lalu, harganya kembali naik 2,8 persen ke level US$58,58 per barel pada Kamis.

"Situasi AS dan China tidak menunjukkan hal positif. Kondisi tersebut memangkas keuntungan investor yang diraih pekan ini," ungkap Mitra di Again Capital Management John Kilduff, dikutip Senin (25/11).

Pasar menganggap ketidakpastian perundingan perang dagang AS dan China akan memberikan tekanan terhadap ekonomi global. Bila ekonomi dunia semakin tak terkendali, maka akan berdampak pula pada harga minyak ke depannya.

Presiden China Xi Jinping mengatakan pihaknya siap membuat pakta perdagangan awal dengan AS untuk menghindari perang dagang. Namun, Negeri Tirai Bambu itu juga tak takut membalas AS jika memang diperlukan.

[Gambas:Video CNN]
Pemerintah China sendiri telah mengundang perunding perdagangan AS untuk membahas mengenai kelanjutan perang dagang. Hal ini juga sebagai upaya China untuk mencapai kesepakatan dengan AS.

"Faktor kunci untuk prospek permintaan minyak adalah negosiasi perdagangan (AS dan China)," kata Kepala Strategi Pasar di CMC Markets & Stockbroking Michael McCarthy (aud/agt)