Pasar Khawatir Pasokan Berlebih, Harga Minyak Tersungkur

CNN Indonesia | Rabu, 20/11/2019 07:47 WIB
Pasar Khawatir Pasokan Berlebih, Harga Minyak Tersungkur Harga minyak turun di tengah kekhawatiran pasar terhadap berlebihnya pasokan. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak turun lebih dari US$1 per barel pada perdagangan Selasa (19/11), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi akibat kekhawatiran melimpahnya pasokan minyak mentah di tengah terbatasnya prospek permintaan.

Dilansir dari Antara, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari merosot US$1,53 atau 2,5 persen menjadi US$60,91 per barel.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember sebesar US$1,84 per barel menjadi US$55,21 per barel.


Sejak awal tahun, Brent menguat sekitar 15 persen berkat kesepakatan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, untuk memangkas produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) mulai 1 Januari.

Bulan depan, kelompok kartel itu akan kembali menggelar pertemuan untuk membahas peluang perpanjangan kebijakan pemangkasan tersebut. Namun, Rusia dikabarkan tidak akan setuju untuk memperdalam pemotongan produksi minyak.

Sementara itu, Pimpinan Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch menilai pemangkasan produksi akan dipengaruhi oleh harga.

"Kami menegaskan kembali, harga Brent pada atau di bawah US$60 akan mengerek kemungkinan pengurangan tambahan produksi pada pembicaraan OPEC mendatang," ujar Ritterbusch.

Penurunan harga minyak juga tak lepas dari kesuraman prospek berakhirnya perang dagang AS-China yang berisiko menekan permintaan.

"Laporan yang kurang menjanjikan dari China tentang perang dagang mungkin telah mengambil sebagian energi keluar dari reli," ujar Analis OANDA Craig Erlam.

Tak hanya itu, kenaikan produksi minyak AS juga turut memukul harga minyak di pasar.

American Petroleum Institute (API) mencatat persediaan minyak mentah AS naik 6 juta barel menjadi 445,9 juta AS pada pekan yang berakhir 15 November 2019.

Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor pendukung harga minyak. Sebagai catatan, di Iran, sejumlah pengunjuk rasa memblokir pelabuhan komoditas setempat pada Selasa (19/11).
[Gambas:Video CNN] (Antara/sfr)