Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan emiten ritel biasanya memanfaatkan momentum tersebut dengan menggelar diskon guna menggaet pelanggan. Imbasnya penjualan mereka pun ikut terdongkrak.
Namun demikian, tidak semua emiten ritel mendapatkan berkah dari sentimen Natal dan tahun baru. Nico menyarankan beli untuk saham PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Mitra Adi Perkasa dijagokan lantaran memiliki keunggulan cakupan merek-merek ternama dari fesyen hingga food and beverage (F&B). Sebut saja, Starbucks, Burger King, Zara, Marks & Spencer, SOGO, SEIBU, Debenhams, Reebook, dan lainnya.
Tak jauh berbeda, Mitra Adiperkasa juga mampu mencatatkan kenaikan laba dua digit. Laba Mitra Adiperkasa tumbuh 15,27 persen dari Rp557,67 miliar menjadi Rp642,84 miliar. Saham Mitra Adiperkasa juga masih bergerak lesu. Pekan lalu sahamnya koreksi 2,82 persen ke posisi Rp1.035 per saham.
[Gambas:Video CNN]
Meski demikian, Nico memprediksi sentimen Natal dan tahun baru mampu mengangkat saham Ramayana ke level Rp1.400 dan Mitra Adiperkasa menjadi Rp1.290 per saham.
Namun, ia bilang daya beli menjadi tantangan sektor ini. Harapannya bayang-bayang pelemahan daya beli ini tidak mempengaruhi penjualan pada akhir tahun. Selain tantangan daya beli, pasar saham juga dihadapkan dengan sentimen negatif dari global, terutama perang dagang AS-China. Akibatnya, ia bilang gerak indeks saham cenderung tertahan.
"Pada minggu ketiga November biasanya sudah ada gosip Santa Claus coming to index maupun window dressing, tetapi kami belum melihatnya saat ini," katanya.
Karenanya, ia berharap negosiasi dagang AS-China segera menemui kesepakatan sebelum tutup tahun, sehingga pelaku pasar kembali optimis.
Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo menyarankan investor tetap selektif memilih saham sektor ritel. Caranya, lanjut dia, dengan menengok fundamental perusahaan ritel sebelum memborong sahamnya.
Sepakat dengan Nico, ia juga merekomendasikan beli saham Indofood CBP dan Ramayana. Selain keduanya, ia juga menganjurkan beli saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
"Tidak semua sektor ritel kena dampak positif dari sentimen Natal dan tahun baru," ujarnya.
Karenanya, ia meyakini Ramayana masih bisa mempertahankan penjualannya di tengah gempuran tren penjualan online.
"Ramayana harusnya bertahan, karena produk lebih terjangkau dibandingkan online. Alasannya konsumen kita masih memiliki atensi pada harga produk yang terjangkau," ucapnya.
Selain Ramayana, HM Sampoerna dan Indofood CBP juga memiliki pasar yang kuat pada segmentasi yang berbeda. Keduanya diyakini tidak mudah goyah di tengah sentimen pelemahan daya beli masyarakat. Pasalnya, produk-produk yang dijual oleh dua emiten tersebut sangat lekat dengan kebutuhan konsumsi masyarakat sehari-hari.
Sedangkan Unilever akan menarik bagi pelaku pasar sejalan dengan rencana pemecahan nilai saham (stock split) pada 2020.
Secara umum, Lucky menuturkan dalam jangka pendek sektor ritel masih dibayangi perkembangan teknologi digital sehingga memunculkan alternatif belanja lewat online. Karenanya, pelaku ritel yang ingin bertahan harus menyesuaikan bisnisnya dari konvensional menjadi berbasis digital.
Namun demikian, dalam jangka panjang ia menyatakan sektor ritel memiliki prospek cemerlang lantaran dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.