Moody's Ramal Ekonomi RI Keok ke Bawah 5 Persen Hingga 2021

CNN Indonesia | Kamis, 05/12/2019 05:50 WIB
Moody's Ramal Ekonomi RI Keok ke Bawah 5 Persen Hingga 2021 Moody's memperkirakan laju ekonomi Indonesia bakal tertekan ke bawah 5 persen hingga 2021. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga keuangan internasional Moody's Investor Service (Moody's) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di bawah 5 persen selama tiga tahun, sejak 2019 hingga 2021. Tahun ini, Moody's memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hanya mampu tumbuh 4,9 persen. Ramalan ini lebih rendah dari asumsi makro APBN 2019 sebesar 5,3 persen.

Managing Director and Chief Credit Officer Michael Taylor mengatakan tahun 2020 pertumbuhan ekonomi cenderung lebih lambat, namun mampu bangkit di 2021.

"Kami prediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan sedikit lebih rendah di 4,7 persen. Lalu, prediksi 2021 naik tipis menjadi 4,8 persen," katanya, Rabu (4/12).


Ia menuturkan penyebab lesunya pertumbuhan ekonomi Indonesia tak lepas dari pengaruh perang dagang antara AS-China, serta AS dan mitra dagang lainnya. Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump juga menyulut genderang perang dengan Uni Eropa. Perang dagang tersebut memberikan sentimen negatif kepada ketidakpastian ekonomi global, sehingga mempengaruhi investasi di pasar.

"Perang dagang memberikan banyak ketidakpastian kebijakan perdagangan di masa depan. Kami sudah mulai melihat dampaknya sekarang mempengaruhi dalam keputusan investasi terutama oleh perusahaan, dan juga dalam kepercayaan mereka," imbuhnya.

Karenanya, Moody's memprediksi pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota G20 hanya mampu berada di angka 2,6 persen pada 2019 dan 2020. Ekonomi anggota G20 baru membaik pada 2021 sebesar 2,8 persen. Untuk diketahui, G20 mewakili sekitar 85 persen PDB global.

Perang dagang ini, lanjutnya, juga menekan pertumbuhan ekonomi China. Pada kuartal II 2019 ekonomi China hanya mampu tumbuh sebesar 6,2 persen atau terendah sejak 27 tahun terakhir.

Moody's memperkirakan China hanya mampu mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi di level itu hingga akhir tahun. Tahun depan, ekonomi China diramal makin loyo di posisi 5,8 persen.

"Ini merupakan hasil dari kebijakan rebalancing China dan penurunan permintaan global. karena China adalah negara dengan ekonomi besar, maka lesunya pertumbuhan ekonomi China berdampak kepada negara lain di regional," ucapnya.

Atas kondisi itu, lanjut dia, China melakukan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonominya. Salah satunya, mengurangi impor batu bara. Di lain sisi, China merupakan pasar utama produk batu bara Indonesia. Moody's khawatir turunnya permintaan batu bara China akan menekan harga batu bara.

"Jadi harga komoditas menjadi penyebab utama lesunya pertumbuhan ekonomi Indonesia," tuturnya.

Secara terpisah, The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) juga memperkirakan laju ekonomi Indonesia melambat pada 2020 menjadi 4,9 persen. Sama dengan Moody's, perlambatan ekonomi domestik tak lepas dari melemahnya perekonomian global.

Pimpinan Ekonom ICAEW Sian Fenner menilai ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh karena ditopang oleh kebijakan moneter akomodatif dan kebijakan fiskal ekspansif. Kondisi itu juga didukung oleh permintaan domestik yang stabil.

"Bank Indonesia (BI) memiliki ruang untuk mengeksplorasi penurunan suku bunga lebih lanjut, sementara pemerintah sedang mengeksplorasi Kebijakan fiskal yang ditargetkan, yang seharusnya dapat membantu mempertahankan konsumsi dan investasi," ungkapnya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara juga diperkirakan stagnan pada 2020 di tengah risiko tinggi eskalasi ketegangan perdagangan.

"Pertumbuhan regional telah melambat sejak tahun 2018 dan tetap lamban pada 2019, dengan pertumbuhan PDB di seluruh kawasan Asia Tenggara hanya naik 4,5 persen dan 4,4 persen pada Februari 2019. Konflik perdagangan AS dan China telah menjadi pendorong utama perlambatan ini," ungkapnya.

[Gambas:Video CNN] (ulf, ara/sfr)