Managing Director and Chief Credit Officer Michael Taylor mengatakan tahun 2020 pertumbuhan ekonomi cenderung lebih lambat, namun mampu bangkit di 2021.
"Kami prediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan sedikit lebih rendah di 4,7 persen. Lalu, prediksi 2021 naik tipis menjadi 4,8 persen," katanya, Rabu (4/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perang dagang ini, lanjutnya, juga menekan pertumbuhan ekonomi China. Pada kuartal II 2019 ekonomi China hanya mampu tumbuh sebesar 6,2 persen atau terendah sejak 27 tahun terakhir.
Moody's memperkirakan China hanya mampu mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi di level itu hingga akhir tahun. Tahun depan, ekonomi China diramal makin loyo di posisi 5,8 persen.
Atas kondisi itu, lanjut dia, China melakukan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonominya. Salah satunya, mengurangi impor batu bara. Di lain sisi, China merupakan pasar utama produk batu bara Indonesia. Moody's khawatir turunnya permintaan batu bara China akan menekan harga batu bara.
"Jadi harga komoditas menjadi penyebab utama lesunya pertumbuhan ekonomi Indonesia," tuturnya.
Secara terpisah, The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) juga memperkirakan laju ekonomi Indonesia melambat pada 2020 menjadi 4,9 persen. Sama dengan Moody's, perlambatan ekonomi domestik tak lepas dari melemahnya perekonomian global.
"Bank Indonesia (BI) memiliki ruang untuk mengeksplorasi penurunan suku bunga lebih lanjut, sementara pemerintah sedang mengeksplorasi Kebijakan fiskal yang ditargetkan, yang seharusnya dapat membantu mempertahankan konsumsi dan investasi," ungkapnya.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara juga diperkirakan stagnan pada 2020 di tengah risiko tinggi eskalasi ketegangan perdagangan.
"Pertumbuhan regional telah melambat sejak tahun 2018 dan tetap lamban pada 2019, dengan pertumbuhan PDB di seluruh kawasan Asia Tenggara hanya naik 4,5 persen dan 4,4 persen pada Februari 2019. Konflik perdagangan AS dan China telah menjadi pendorong utama perlambatan ini," ungkapnya.
[Gambas:Video CNN] (ulf, ara/sfr)