Moody's Bongkar Rahasia Investasi RI Bisa Kalah dari Vietnam

CNN Indonesia | Kamis, 05/12/2019 07:42 WIB
Moody's menyebut masalah infrastruktur membuat investasi Indonesia kalah dibanding Vietnam. Moody's membongkar permasalahan investasi di Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga keuangan internasional Moody's Investor Service membeberkan penyebab mayoritas perusahaan merelokasi pabriknya dari China ke Vietnam, Malaysia dan Thailand. Managing Director and Chief Credit Officer Michael Taylor mengungkapkan Vietnam dan negara tersebut memiliki produk ekspor yang serupa dengan China.

Untuk Vietnam, mereka memiliki pabrik untuk barang ekspor elektronik seperti China.

"Berbeda dengan Indonesia. Tingkat kesamaan produk ekspor Indonesia dengan China lebih rendah. Vietnam juga telah memiliki pabrik sehingga perusahaan bisa meningkatkan produksinya dari sana," terangnya, Rabu (4/12).


Selain faktor kesamaan produk ekspor, ia bilang Indonesia juga memiliki kekurangan yang membuat perusahaan memilih merelokasi pabrik mereka ke Vietnam dan sejumlah negara. Salah satunya berkaitan dengan infrastruktur utamanya yang mendukung kegiatan ekspor.

Karena itu, agar Indonesia dilirik investor ia menyarankan Indonesia memperbaiki infrastruktur. Infrastruktur merupakan faktor utama yang bisa mendatangkan investasi.

"Agar mendapatkan keuntungan dari diversifikasi pasar ini, Indonesia perlu investasi pada infrastruktur seperti pelabuhan, jalan sehingga ekspor bisa didorong," paparnya.

Moody's menyatakan permasalahan tersebut tidak bisa menutupi keunggulan yang dimiliki Indonesia berkaitan dengan upah pekerja. Menurut mereka upah Indonesia sebenarnya masih lebih rendah dibandingkan tiga negara tersebut.

[Gambas:Video CNN]
"Hal yang menarik adalah upah buruh yang masih sangat rendah, bahkan lebih rendah daripada Vietnam," ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluh, Keluhan ia sampaikan terkait kondisi investasi di Indonesia. 

Ia mengatakan iklim investasi di dalam negeri sampai saat ini belum menggembirakan. Padahal, pemerintahannya sudah mati-matian dalam memperbaiki iklim investasi.

Iklim investasi yang belum menggembirakan tersebut kata Jokowi tercermin dari laporan Bank Dunia yang menyatakan ada 33 perusahaan  yang merelokasi perusahaannya dari China ke sejumlah negara tetangga Indonesia.

(ulf/agt)