Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.037 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi Kamis (5/12/), yakni Rp14.094 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat ringgit Malaysia menguat 0,21 persen, yuan China 0,15 persen, peso Filipina 0,14 persen, dan baht Thailand sebesar 0,13 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah disebabkan oleh sentimen isu kesepakatan dagang antara AS dan China yang membaik.
"Presiden AS Donald Trump tetap optimistis dan mengatakan pembicaraan terus bergerak (maju)," tutur Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (6/12).
Selain itu, lanjut Ibrahim, sentimen tersebut juga diperkuat oleh nilai dolar yang melemah akibat analisis rilis laporan yang memperkirakan tidak ada kemajuan dari jumlah tenaga kerja AS.
"Pasar menunggu rilis laporan tenaga kerja AS terbaru. Analis memperkirakan laporan pekerjaan menunjukkan tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 3,6 persen, atau tidak berubah dari Oktober," ucapnya.
Tak hanya itu, Ibrahim juga menyebut penguatan nilai rupiah juga terbantu dari sentimen domestik, dengan positifnya data cadangan devisa pada November, dan data ekonomi kuartal IV yang dinilainya membaik.
Lihat juga:Pengusaha Hotel 'Happy' Dirut Garuda Dipecat |
"Dengan stabilitas makroekonomi yang stabil, maka mata uang garuda di akhir pekan ini menguat cukup tajam," tandasnya.
Lebih lanjut, Ibrahim memprediksi bahwa dalam perdagangan pekan depan, rupiah kemungkinan masih akan terus menguat di level Rp14.010 hingga Rp14.060 per dolar AS.
[Gambas:Video CNN] (ara/bir)