"Mudah-mudahan Trump diganti. Ia sumber utama kondisi global yang tidak kondusif," ujar Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Endy Dwi Cahyono dalam Pelatihan Wartawan BI di Manggarai Barat, NTT, Senin (9/12).
Salah satu polah Trump yang menjadi perhatian dunia adalah sikap proteksionisme yang memantik perang dagang dengan China sejak tahun lalu. Perang dagang antara kedua negara dengan perekonomian terbesar dunia ini menjadi salah satu faktor penahan laju ekonomi global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, kedua negara masih berupaya untuk menyelesaikan kesepakatan perdagangan (trade deal) fase I. Namun, pelaku pasar pesimistis kesepakatan itu terjadi sebelum akhir tahun.
Menurut Endy, Trump seharusnya mendukung kesepakatan dagang segera tercapai. Sebab, popularitasnya kalah dari kandidat calon presiden AS dari Partai Demokrat jelang Pemilihan Presiden AS 2020.
Lihat juga:Bank Dunia Akan Kurangi Pinjaman ke China |
Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto mengungkapkan AS dan China merupakan mitra dagang utama Indonesia. Konsekuensinya, perlambatan pertumbuhan ekonomi di kedua negara akan menekan permintaan ekspor dalam negeri.
Ia mengingatkan setiap penurunan pertumbuhan ekonomi AS sebesar 1 persen, pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot 0,05 persen. Kemudian, setiap penurunan laju ekonomi China, laju pertumbuhan ekonomi terseret 0,27 persen.
"Artinya, setiap 1 persen penurunan pertumbuhan ekonomi AS dan China, ekonomi Indonesia turun 0,32 persen," ujar Ryan di tempat yang sama.
Lebih lanjut, ia menyorot setiap kali Trump mengunggah cuitan melalui akun Twitter resminya, pelaku pasar akan bereaksi. Untuk itu, sebagai kepala negara, Trump seharusnya lebih bijaksana dalam menyampaikan narasinya.
[Gambas:Video CNN]
Catatan Redaksi: Redaksi mengubah judul artikel ini pada Senin (9/12) pukul 15.00 WIB terkait dengan klarifikasi pihak terkait.
(sfr/age)