"Tentu gaya kepemimpinan setiap menteri berbeda, yang tidak kalah dengan menteri sebelumnya. Pak Erick ingin bersih-bersih dan menekankan pada moralitas, dia pakai kata akhlak yang baik," ujar Ferry dalam sebuah forum diskusi di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Sabtu (14/12).
Saat ini, kemunculan Erick seolah langsung memberi 'gebrakan' bagi Kementerian BUMN dan para perusahaan negara. Ia memilih untuk langsung membersihkan pada perusahaan pelat merah dari oknum-oknum yang dianggapnya tidak bertanggung jawab.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai kebijakan ini pun kerap diberitahu kepada publik secara gamblang. "Komitmen Pak Erick adalah BUMN harus bersih, dibangun dengan team work dari pengurus BUMN yang kompak, dan pertimbangannya masyarakat perlu juga mengawasi. Maka semuanya dibuka dan masyarakat mungkin jadi bertanya juga," katanya.
Gaya kepemimpinan ini, katanya, cenderung berbeda dengan Rini. Ia mengatakan berbagai hal yang dilakukan Erick sebenarnya juga dilakukan Rini, namun dengan cara yang lebih tertutup dari sorotan publik.
"Mungkin di periode sebelumnya dirasa informasinya belum sempurna, sehingga banyak informasi beredar di media mainstream dan media sosial yang belum utuh, belum lengkap. Padahal, (di masa Rini) kami punya seperti talent pool dan melihat dengan rekam jejak," terangnya.
Ia menduga Erick terkesan memberi banyak 'dobrakan' kepada kementerian karena mendapat tantangan yang besar dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kepala negara tak hanya memberikan tanggung jawab untuk mengurus 142 perusahaan dengan 114 perusahaan merupakan murni perusahaan yang kepemilikan sahamnya di atas 51 persen, namun juga mengurus anak, cucu, dan cicit usaha.
"Tantangannya besar dan harus ditaklukkan dengan cepat karena pada 2024, BUMN diminta sudah go global. Makanya, dalam dua bulan ini, Pak Erick setidaknya sudah keluarkan enam ketentuan ini itu untuk benahi BUMN," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)