Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.004 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Jumat (13/12), yakni Rp13.982 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Tercatat, lira Turki melemah 0,67 persen, yuan China 0,27 persen, dolar Singapura 0,21 persen, diikuti ringgit Malaysia yang melemah 0,20 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Utang Luar Negeri RI Tembus Rp5.608 Triliun |
"Neraca Dagang RI pada November 2019 mengalami defisit sebesar US$1,33 miliar. Dimana defisit ini didorong meningkatnya impor migas serta impor utama yang berkaitan dengan kegiatan akhir tahun," kata Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (16/12).
Disamping itu, Ibrahim menyebut pelemahan juga dipicu upaya pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam mengantisipasi gejolak global susulan yang kemungkinan masih akan terjadi di 2020. Upaya belum memuaskan pasar sehingga membuat rupiah melemah.
Dari sisi eksternal, Ibrahim menyebut rupiah sebenarnya mendapatkan sentimen positif dari kesepakatan dagang fase satu AS dan China yang terjadi Jumat (13/12) lalu.
"Keduanya tidak serta merta menguatkan mata uang rupiah, sehingga wajar kalau rupiah dalam perdagangan hari ini melemah," ungkapnya.
Ibrahim memperkirakan dalam perdagangan besok, rupiah kemungkinan akan menguat tipis di level Rp13.970 hingga Rp14.030 per dolar AS.
[Gambas:Video CNN] (ara/agt)